Mengenal Imam Malik: Sosok Mujtahid yang Nasionalis

Mengenal Imam Malik: Sosok Mujtahid yang Nasionalis

Almunawwir.com-Beliau bernama Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amru bin Harits bin Ghaiman bin Khutsail. Seorang ulama madzahib yang berasal dari salah satu kabilah di Yaman, yakni Kabilah Ashbah. Kakeknya, Abu Amir adalah seorang sahabat yang agung dan mengikuti semua peperangan bersama Nabi kecuali perang Badar.

Selain itu kakeknya, Malik bin Abi Amir termasuk tabi’in senior yang mendapat gelar Abu Anas. Imam Malik lahir di Madinah pada tahun 93 H atau sekitar tahun 712 M. Bisa dibilang, Imam Malik masuk kategori tabi’in junior sebab beliau pernah berjumpa dengan para sahabat, tercatat beliau ialah salah satu orang yang memanggul jenazah Khalifah Utsman bin Affan saat akan dimakamkan.

Dalam perjalanan intelektual dan spiritualnya, Imam Malik tidak terlepas dari peran orang-orang terdekatnya. Ibunya, ‘Aliyah binti Syuraik bin Abdurrahman bin Syuraik bin al-Azdiyah senantiasa menasehati Imam Malik untuk belajar akhlak lebih dahulu sebelum menimba ilmu lainnya.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Malik berkata, “Aku berpamitan pada ibuku untuk pergi mencari ilmu”. Ibuku berkata, “Kemarilah, Nak, kenakanlah pakaian yang pantas bagi seorang penuntut ilmu”. Kemudian ibu mengenakanku pakaian yang baik, juga memakaikan peci di kepalaku, dan memasangkan turban, lalu beliau berkata, “Nah, sekarang pergilah kepada gurumu Rabi’ah untuk menuntut ilmu. Tapi ingat, Nak, belajarlah dahulu akhlak darinya sebelum kau menyerap ilmunya”.

Selain itu, Imam Malik juga memiliki tiga orang paman ahli hadits, yaitu Nafi’ (Abu Suhail), Uwais, dan ar-Rabi’. Ayahnya, Anas bin Malik merupakan seorang ahli hadits di masa tabi’in. Saudara kandungnya, Nadhar bin Anas juga menjadi partnernya dalam menuntut ilmu.

Meskipun Imam Malik lahir di tengah keluarga yang ‘alim dan intelek, beliau tetap berjuang keras untuk menyerap berbagai ilmu dari banyak guru. Imam Abu Qasim Abdu al-Malik bin Zaid bin Yasin ad-Daulaqi berkata dalam kitabnya ar-Risalah al-Mushannafah fi Bayani Subulis Sunnah al-Musyarrafah, “Imam Malik mengambil ilmu dari 900 guru, 300 di antaranya dari generasi tabi’in, dan 600 lainnya dari generasi tabi’ut tabi’in.

Guru yang dipilihnya adalah yang diridhai agamanya, ilmu fiqihnya, serta konsistensinya terhadap syarat-syarat dalam meriwayatkan hadits, dan Malik tidak berguru kepada orang yang tidak mengerti ilmu riwayat, meskipun ia termasuk ahli agama dan kebaikan”. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita untuk pandai memilih dan memilah guru yang tepat.

Selanjutnya, menilik sumber hukum yang digunakan oleh Imam Malik dalam berinstinbat antara lain: Al-Qur’an, Hadits Nabi Muhammad saw., Ijma’, Qiyas, al- Maslahat al-Mursalat, Perkataan sahabat Nabi Muhammad saw., serta adat yang diikuti penduduk Madinah. Disini ada sumber hukum yang menarik, yakni diambil dari adat penduduk Madinah.

Imam Maliki berpendapat bahwa Madinah adalah pusat ilmu, di mana hidup di dalamnya para sahabat yang mulia. Tercatat, sahabat Rasulullah yang terkenal dan terus berada di Madinah sampai akhir hayatnya berjumlah 152 orang, 36 persen dari total generasi sahabat. 61 sahabat di Makkah, atau 14 persen dari total, lalu di Basrah ada 52 sahabat (12 persen), di Kufah 55 sahabat (13 persen), di Damaskus 55 sahabat (13 persen), di Mesir 22 sahabat, 5 persen, di Yaman 16 sahabat, 3 persen, dan di Khurasan 5 sahabat.

Baca Juga:

Dominasi inilah yang menjadi salah satu penguat bahwa setiap perilaku yang disepakati oleh penduduk Madinah – kala itu – bisa dijadikan dalil, sebab hampir bisa dipastikan amalan tersebut bersumber dari Nabi Muhammad saw. yang dilestarikan oleh para sahabat.

Selain itu, di antara sahabat tersebut, ada tujuh fuqaha masyhur yang eksis di saat itu; Urwah bin az-Zubair, al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr, Kharijah binti Zaid, Abu Bakr bin Ubaid bin Abdirrahman, Sulaiman bin Yasar, Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud dan Said bin al-Musayyab.

Hal-hal tersebut membuat Imam Malik begitu mencintai kota Madinah. Sang Imam Mujtahid tercatat tidak meninggalkan kota Madinah kecuali untuk urusan haji dan umrah. Saat Imam Malik telah menjadi ulama besar di Madinah, beliau memilih satu tempat khusus di masjid Nabawi, di mana dahulu terdapat karpet yang biasa diduduki Nabi Muhammad saw ketika i’tikaf.

Bahkan Imam Malik disebutkan memilih bekas rumah sahabat Abdullah bin Mas’ud sebagai kediaman beliau, supaya mampu memaknai perjuangan para pendahulu. Kecintaan beliau akan kota Madinah sejumbuh dengan kecintaannya pada Nabi Muhammad saw. yang bersemayam di kota tersebut.

Jika ada seseorang datang padanya untuk bertanya ihwal fiqih dan muamalah, beliau akan segera datang dengan pakaian seadanya untuk menjawab dan memberikan fatwa. Namun jika umat bertanya perihal hadis, Imam Malik akan mempersilahkan orang tersebut menunggu dulu, lalu beliau membersihkan diri dengan mandi, memakai pakaian terbaik dan mengenakan wewangian.

Barulah kemudian Imam Malik duduk di hadapan orang yang bertanya tersebut sambil menyalakan bukhur dan menjawab dengan hati-hati mengenai hadits Rasulullah saw. Begitulah sosok Imam Malik yang selalu memperhatikan penampilan sebagai wujud ikraman li al-ilmi (memuliakan ilmu).

Sumber Referensi:

  • Jalaluddin al-Suyuthi. 2021. Tazyinu al-Mamalik Bi Manaqibi al-Imam al-Malik, Maroko: Dar al-Rasyad al-Haditsah.
  • Ahmad Asy-Syurbasyi. 2001. al-Aimmah al-Arba’ah (Sejarah dan Biografi Empat Imam Madzhab), Jakarta: Penerbit Amzah.
  • Qadi Iyad Ibn Musa Yahsubi. Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik. Beirut:DKI.
  • Abi Zakaria An-Nawawi. Tahzib al-Asma’ wa al-Lughat. Beirut: Dar el-Kitab al-Ilmiyah Tahdzib al-Asma wa al-Lughat.
  • Wildan Jauhari. 2018. Biografi Imam Malik, Jakarta:Rumah Fiqih Publishing.
  • Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. 1996. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin, Beirut: Dar al- Kutub al-Ilmiyah A’lam al-Muwaqqin.
  • Mengenal Imam Malik: Sosok Mujtahid yang Nasionalis

Penulis: Zarkasyi Abulhauly

Editor: Redaksi

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel