Mbah Hamid Utarakan 5 Kewajiban dalam Belajar Al-Qur’an

Mbah Hamid Utarakan 5 Kewajiban dalam Belajar Al-Qur’an

Yogyakarta – Almunawwir.com

Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Nurussalam gelar Haflah Khotmil Qur’an dan Haul Ny. Hj. Salimah Munawwir ke-55, KH. Dalhar Munawwir ke-14, dan Ny. Hj. Siti Makmunah ke-44 (Sabtu, 17/10).

Sebagai informasi haflah khotmil qur’an di Nurussalam baru bisa terlaksana kembali setelah 4 tahun lamanya lantaran pandemi kemarin. Pasca pandemi berlalu, nampaknya para santri, wali santri, dan tamu undangan turut antusias dalam menyemarakan acara tahun ini, terlihat depan komplek dan sekitarnya padat dengan pengunjung yang hadir kala itu.

Rangkaian acara pertama yaitu gebyar Haflah Khotmil Qur’an ba’da Maghrib. Sebanyak 27 khotimat Juz ‘Amma, 29 khotimat Bin-Nadzri, dan 28 khotimat Bil-Hifdzi tampil di panggung acara. Setelah penampilan selesai, selanjutnya pembagian syahadah kepada para khotimat.

Kemudian acara berikutnya Majelis Haul yang dipandu oleh MC, Mun’imatus Sholihah dan Indana Zulfa. Pertama pembacaan Al-Fatihah, lalu pembacaan kalam ilahi oleh Ahmad Alfin Fauzi, dan pembacaan tahlil (majelis haul) oleh KH. Mu’tashim Billah, pengasuh PP. Pandanaran.

Baca juga: TIM Lajnah Bahsul Masa’il Almunawwir Luncurkan Inovasi Baru

Kemudian sambutan-sambutan oleh shahibul bait, H. Fakhrur Rozi dan KH. Fathoni Dalhar. Berlanjut acara terakhir Mauidlah Hasanah sekaligus Doa oleh KH. R. Abdul Hamid, selaku pengasuh pusat PP. Al-Munawwir.

Rencananya mauidlah pada puncak haul ini akan disampaikan oleh KH. Musthafa Bisri atau Gus Mus. Namun, pada hari itu Gus Mus belum sempat hadir lantaran beberapa hari sebelumnya beliau baru pulang dari perjalanan Umroh dan memilih untuk beristirahat di rumah.

Mbah Hamid-sapaan KH. R. Abdul Hamid-memulai mauidlahnya dengan memberikan ucapan selamat dan sukses kepada para khotimat. Semoga apa yang telah dicapai para khotimat tidak merasa puas dan terus semangat membaca dan muraja’ah kapan pun di mana pun.

KH. R. Abdul Hamid tengah Memimpin Doa Penutup pada Puncak Haul Nurussalam
(Sumber Gambar: Tim Media Nurussalam)

5 Pilar Belajar Al-Qur’an

Dalam mauidlahnya beliau menjelaskan 5 kewajiban yang wajib paham bagi seseorang yang belajar Al-Qur’an, yaitu:

Pertama, orang yang belajar Al-Qur’an hukumnya wajib mengi’tiqodi (meyakini) bahwa Al-Qur’an ialah wahyu Allah yang Ia turunkan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai mukjizat sekaligus pedoman hidup umat manusia.

“Artinya bukan sekedar menghafal saja, sebab seiring perkembangan zaman, banyak versi Al-Qur’an yang berbeda dengan apa yang beredar biasanya (6 ribuan ayat). Sebab versi kaum Syi’ah, Al-Qur’an memiliki 16 ribu ayat” Sahut beliau.

Kedua, setelah meyakini, Al-Qur’an harus dibaca dengan baik dan benar. Firman Allah QS. An-Naml: 92, wa an atluwal qur’an (Dan agar aku membacakan Al-Qur’an kepada manusia).

Di sini Mbah Hamid menegaskan maksud “baik dan benar”, artinya membaca dengan kaidah-kaidah Al-Qur’an, seperti ilmu tajwid, ilmu qira’atil qur’an, atau selainnya.

Baca juga: Pengembaraan Dakwah bil Qur’an KH M Moenawwir

Kiai Arwani Kudus telah memberikan peringatan kepada orang yang membaca Al-Qur’an, agar selalu berhati-hati dalam membacanya. Karena banyak orang yang membaca Al-Qur’an tapi ia tidak mendapatkan pahala dan syafaatnya.

Bahkan ia mendapatkan laknat dari Al-Qur’an. Sebuah atsar menyebutkan رُبَّ تَالٍ لِلْقُرْآنِ وَاْلقُرْآنُ يَلْعَنُهُ (banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tapi Al-Qur’an melaknatinya).

Kenapa hal ini bisa terjadi? Mbah Hamid melanjutkan, sebabnya minimal ada dua hal: (1) ia membaca Al-Qur’an tetapi kelakuannya tidak seperti Al-Qur’an, contohnya durhaka kepada orang tua, tidak menuruti petintah guru, dan lain sebagainya; (2) ia membacanya secara sembrono dan banyak yang keliru.

Sekarang banyak metode pembelajaran Al-Qur’an, tapi menurut Mbah Hamid metode yang baik adalah metode yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Rasulullah belajar Al-Qur’an melalui Malaikat Jibril mulai dari awal sampai akhir.

Maka simpulannya, seseorang yang hendak membaca Al-Qur’an harus ada sosok guru yang menuntun dan menyimaknya sampai khatam (musyafahah). Spesifikasi gurumya pun harus termasuk mutqin, muqriin, ahlil qur’an, dan mendapatkan izin mengajar oleh gurunya.

Baca juga: Sekilas Tentang Al-Marhum KH. R. Abdul Qodir Munawwir Krapyak Yogyakarta

Ketiga, selain keduanya, seseorang harus berusaha mempelajari isi kandungan Al-Qur’an sesuai kemampuannya masing-masing. Firman Allah QS. Shad: 29, kitaabun anzalnaahu ilaika mubaarakul liyaddabbaru aayaatih (Kitab yang Kami turunkan kepada kamu yang diberkahi untuk dihayati ayat-ayatnya)

Termasuk men-tadaburi Al-Qur’an ialah pembaca memahami isi kandungannya baik secara tekstual ataupun kontekstual.

Keempat, setelah menghayati isi kandungan Al-Qur’an, kemudian pembaca mengamalkan apa yang telah dipahaminya.

“Sebab kalau iman saja, tapi tidak membaca, tidak memahaminya itu kurang bagus” Tegas Mbah Hamid.

Kelima, mengajarkannya kepada orang lain. Ia harus menyampaikan apa yang telah diperolehnya meskipun satu ilmu, sebuah riwayat menyebutkan: ballighu ‘anni wa law aayah (sampaikanlah dariku meskipun satu ayat).

Demikianlah 5 pilar Al-Qur’an yang wajib dimengerti oleh seorang muslim. Sebab Al-Qur’an adalah mukjizat, maka dalam belajarnya pun harus memenuhi aturan-aturan yang ketat.

Tidak Mengenal Waktu

Seorang santri yang belajar Al-Qur’an tidak boleh melihat umur, tidak melihat keahlian diri, dan tidak gengsi. Sebuah riwayat menyebutkanخُذِ اْلحِكْمَةَ وَلَا يَضُرُّكَ مِنْ اَيّ وِعَاءٍ خَرَجَتْ “Ambilah hikmah, karena ia tidak akan merugikanmu dari mana pun ia lahir” (As-Sakhawi dalam Al-Maqashid Al-Hasanah).

Mbah Hamid menceritakan bahwa mengaji membutuhkan waktu yang lama dan tidak boleh terburu-buru. Proses turunnya Al-Qur’an pun memakan waktu selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

K. Munawwir belajar Al-Qur’an di Makkah selama 21 tahun, K. Arwani Kudus belajar Al-Qur’an selama 19 tahun. Artinya, mengaji Al-Qur’an butuh waktu yang relatif tidak singkat. Sebagaimana nadzom Alala pada syathr terakhir menyebutkan “…wa irsyadil ustadzi wa thuli zamani” (… adanya bimbingan guru, dan waktu yang lama).

Baca juga: Bahaya Waqaf Sembarangan Saat Membaca Al-Qur’an: Mengenal Jenis-Jenis Waqaf (Bagian 1)

Kemudian bila ia sudah khatam Al-Qur’an jangan terlalu puas atas apa yang telah ia capai. Sebab ukuran Al-Qur’an itu wa’bud rabbaka hatta ya’tiyakal yaqiin (dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu).

Jadi seorang santri harus senantiasa membaca Al-Qur’an-bahkan sejak kecil-, muraja’ah, sima’an, belajar kepada guru/teman yang lebih sepuh/senior, agar hafalannya menancap di dalam hati. Hal ini juga pernah Nabi Muhammad lakukan, beliau mengaji  (sima’an) kepada Malaikat Jibril setiap bulan Ramadhan sampai khatam 2 kali.

Semoga dengan belajar Al-Qur’an, kita semua mendapatkan ridha Allah, dengan mencintai Al-Qur’an, kita semua mendapatkan syafaatnya, sebab syafaat Al-Qur’an berbeda dengan syafaat lainnya.

Syafaat Al-Qur’an bila dipegang dan dikaji dengan sungguh-sungguh akan mencukupi kehidupan dunia dan akhirat. Amiin.

مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْقُرْآنِ، وَمَنْ اَرَادَ اْلاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْقُرْآنِ، وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْقُرْآنِ

“Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia maka hendaknya dengan Al-Qur’an.
Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat maka hendaknya dengan Al-Qur’an.
Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia-akhirat maka hendaknya dengan Al-Qur’an”

Baca juga: Apakah Iblis Dahulunya Adalah Malaikat? Begini Penjelasan Imam Al-Razi

Irfan Fauzi

Irfan Fauzi

IrfanFauzi

15

Artikel