Daripada Novel “Hati Suhita” Mending Baca Novel “Jadilah Purnamaku Ning”

Daripada Novel “Hati Suhita” Mending Baca Novel “Jadilah Purnamaku Ning”

Almunawwir.com– Kalangan santri pastinya sangat antusias terkait tayangnya film “Hati Suhita” di bioskop nasional. Pasalnya film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Khilma Anis ini menyajikan  alur serta latar cerita yang sangat kental dengan dunia pesantren.

Namun menurut penulis sendiri, “Hati Suhita” tidak begitu menarik jika dibandingkan dengan novel yang sudah pernah ditulis Khilma seperti “Wigati” atau “Jadilah Purnamaku Ning”.

Novel “Hati Suhita” sendiri tidak berbeda jauh dengan novel pesantren genre romance pada umumnya yaitu tentang perjodohan, yang membuat seolah semua pesantren tidak ada yang mengenal dan mengambil pelajaran dari Siti Nurbaya.

jadilah purnamaku ning
sumber : inidata.id

Walaupun begitu “Hati Suhita” tetap memiliki keunggulan serta keunikan tersendiri. Misalnya dari segi tokoh Alina yang berjuang mendapatkan cinta suaminya sendiri yaitu Gus Biru, dan Gus Biru yang pada akhir cerita menyimpan hati dan jiwa yang sangat bijaksana sehingga menghasilkan klimaks alur cerita yang sangat tidak terduga.

Tidak hanya itu, karena memang Khilma Anis sendiri merupakan anak dari pengasuh Pondok Pesantren Annur Kesilir Wuluhan Jember dan dari kecil sangat dekat dengan dunia Islam sehingga dalam novel tersebut tidak lepas dari syari’at Islam yang mendalam.

Baca juga :

Namun dalam tulisan ini saya tidak ingin membedah novel “Hati Suhita” melainkan novel “Jadilah Purnamaku Ning” yang menurut penulis mungkin cocok untuk diangkat sebagai kritik dan perenungan untuk gawagis (jamak dari gus atau anak kyai) atau para anak dari orang terpandang yang mengandalkan nama orang tuanya.

Pasalnya pembukaan cerita menyajikan seorang Nawang, tokoh perempuan yang memiliki jiwa aktivis yang mengolok-olok Gus Alfin dengan istilah Kakudung Welulang Macan yang berarti berlindung dengan kulit macan.

Kakudung Welulang Macan ini diumpamakan ketika ada anak macan yang tidak begitu hebat tetapi tetap ditakuti hewan lain karena anak macan tersebut berlindung pada kulit yang sama dengan milik orang tuanya.

Hal ini mungkin sudah banyak kita lihat, yang mana banyak ditemui anak Kyai ataupun pejabat mentang-mentang dengan mengandalkan nama orang tuanya.

jadilah purnamaku ning
Sumber: Perpustakaan Jakarta

Selain itu, novel “Jadilah Purnamaku Ning”  juga membahas tentang pemikiran yang keliru dari oknum keluarga pesantren yang menganggap mereka sendiri satu strip di bawah Tuhan. Lantaran dalam novel tersebut terdapat penggambaran tradisi pesantren di mana keluarga pesantren menjaga gengsi antar pesantren sampai mengabaikan permasalahan-permasalahan sosial masyarakat yang jelas-jelas diajarkan dalam Islam itu sendiri.

Hal ini pernah disinggung oleh dawuh Alm. KH. Maimoen Zubair ketika Beliau disowani seseorang untuk meminta izin membangun pondok pesantren, Beliau mengatakan “demi Allah pondok iku dunyo, pondok itu bukan wasilah ke surga melainkan ngajinya” yang mana hal ini berbanding lurus dengan hal yang digambarkan dalam novel tersebut.

Namun tidak setiap pondok pesantren sama seperti pesantren milik keluarga Gus Alfin, dalam novel tersebut juga mengangkat pesantren milik keluarga angkat Yasfa yang jauh berbeda dari pesantren Gus Alfin, yang mana pesantren tersebut sangat toleran budaya dan bermasyarakat.

Baca juga :

Yang menarik lagi, novel ini mengangkat isu kesetaraan gender yang dikisahkan melalui Ibunda dari Nawang yang tidak disukai oleh keluarga suaminya dengan alasan Ibunda Nawang tidak selaras dengan pemikiran keluarga suaminya yang beranggapan bahwa perempuan memiliki batas yang tidak boleh dilewati sampai akhirnya mengalami perceraian.

Kesetaraan gender dalam novel ini diperkuat dengan beberapa dialog Ibu Nawang kepada Nawang.

“Ya Juga seluruh keluarganya. Mengikuti kegiatan kampung di luar rumah saja Ibu tak pernah. Apalagi kegiatan lain yang didalamnya terdapat interaksi dengan non-muhrim. Belum lagi kegiatan kemasyarakatan atau partai”

“Ibu hanya tidak ingin teriakanmu diredam tembok besar pesantren, Nduk. Ibu Cuma tak ingin cita-citamu musnah dalam angkuh pesantren itu. Ibu Cuma tak mau kamu bernasib sama seperti ibu, terbuang dengan hina dan harus membesarkanmu sendirian. Cukup Ibu saja Nduk

Bisa disimpulkan bahwa novel “Jadilah Purnamaku Ning” ini sangat kaya akan isu-isu yang relevan pada saat ini, novel ini juga dapat menjawab terkait kritikan terhadap pesantren yang kurang tepat.

Sehingga para pembaca yang notabenenya kurang memahami pesantren tidak serta merta menjustifikasi jelek terhadap pesantren, terlebih dalam akhir novel tersebut mengangkat sebuah pesantren yang sangat berbeda dengan pesantren milik keluarga Gus Alfin ataupun keluarga Bapak Nawang. Sehingga dapat memberi perbandingan terkait mana yang benar dan salah serta menegaskan tidak semua pesantren itu sama.

Baca juga

Penulis : Mohammad Saha Mahbub

Editor : Nur Hanik

Redaksi

Redaksi

admin

554

Artikel