Potret Hari Raya Idul Fitri 1444 H di Pondok Pesantren Al-Munawwir

Potret Hari Raya Idul Fitri 1444 H di Pondok Pesantren Al-Munawwir

Almunawwir.com – Setelah satu bulan kita semua menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kini saatnya kita telah berpisah dengan bulan suci itu dan menyambut bulan kemenangan. Dimana pada bulan ini, umat muslim merasa gembira karena telah berjuang melawan hawa nafsu satu bulan berpuasa.

Bulan Syawal menjadi bulan yang di dalamnya terdapat momentum yang senantiasa dinanti oleh setiap orang. Dimulai dari malam takbir (malam satu Syawal) masyarakat bersorak gembira dengan merayakan malam kemenangan tersebut.

Menghidupkan malam hari raya memang dianjurkan oleh syariat. Bagi mereka yang menghidupkan malam raya dengan beribadah kepada Allah, jaminannya adalah hatinya tidak akan redup atau mati dari cahaya ilahi.

Baca juga:

Sebagaimana rutinitas tahun sebelumnya, di Krapyak kegiatan malam hari raya tersebut di isi dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah penyaluran Zakat Fitrah serta lantunan takbiran di setiap masjid komplek terus bergema hingga fajar berlabuh.

Pagi hari di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak (22/04), seluruh santri dari berbagai komplek dan masyarakat setempat mengikuti shalat Idul Fitri berjamaah di Masjid Jami’ Almunawwir. Lantunan-lantunan takbir tiada hentinya hingga didirikannya shalat Idul Fitri.

Tampak juga para Jama’ah telah memadati seluruh tempat masjid Jami’ serta tengah menunggu pelaksanaan shalat Id dimulai. Di samping itu juga, bagian utara masjid nampak jamaah putri telah memadati area sepanjang halaman komplek AB.

Adapun imam shalat Idul Fitri dan khutbah dipimpin langsung oleh KH. R. Abdul Hamid AQ, selaku dewan pengasuh pondok pusat. Dalam kesempatan khutbahnya, beliau berharap semoga dengan masuknya awal syawal ini seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima dan diridhai oleh Allah Swt.

“Yang paling penting adalah kita semua akan kembali menjadi seorang yang fitri, seorang yang baru, bersih, dan suci” Tuntasnya dalam khutbah Idul fitri 1444 H.

Beliau melanjutkan bahwa hidup di dunia ini merupakan ujian. Dari sejak kita sekolah SD dihadapkan dengan ujian, masuk MTs dihadapkan ujian, masuk MA dihadapkan ujian, masuk perguruan tinggi dihadapakan ujian, melamar kerja pun harus ada ujiannya, bahkan mempromosikan jabatan pula ada ujiannya.

Baca juga:

“Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, kehidupan di dunia ini sejatinya adalah ujian dari Allah Swt. Di mana tempat kelulusannya adalah kehidupan akhirat kelak, yaitu surga atau neraka, bahagia atau sengsara selamanya” Imbuhnya.

Lanjutnya, ujian di dunia dan ujian dari Allah tentunya sangatlah berbeda. Jika ujian di dunia sekolah atau kerja soal-soalnya bersifat rahasia tidak diberitahukan. Sebaliknya, ujian dari Allah justru tidak dirahasiakan bahkan ujian untuk masuk surga pun sudah diberitahukan kunci jawabannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa kunci surga adalah kalimat tauhid “lailahaillallah”.

Foto Bersama para Masyayikh Krapyak
Sumber Gambar: Media Almunawwir

Oleh karena itu, sungguh naif sekali bilamana kita tidak masuk surga sementara kunci jawabannya sudah dikasih tahu sebelumnya bahkan sudah menjadi rahasia umum.

Setelah rangkaian shalat Idul Fitri selesai, para jamaah segera bermushafah satu sama lain bersama masyayikh Almunawwir.

Pendek kata, semoga berpisahnya kita dengan Ramadhan, menjadikan satu babak baru lagi sebagai insan yang suci dari segala dosa sehingga kita tidak berani menodainya kembali. Dan semoga kita semua bisa bertemu dengan bulan yang sangat mulia, yakni Ramadhan. Amiin.

Baca juga:

Redaksi

Redaksi

admin

522

Artikel