Mengenal “KH. Muhammad Munawwir” melalui cerita “Gus Mus”

Mengenal “KH. Muhammad Munawwir” melalui cerita “Gus Mus”

Almunawwir.com – Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak menyelenggarakan Haflah Khotmil Qur’an dan Haul KH Muhammad Munawwir (03/01/2023). Diselenggarakan secara semarak di halaman PP Al Munawwir Krapyak dengan penuh takdzim, terdiri dari ratusan santriwati putri delegasi setiap komplek pada acara Khotmil Qur’an.

Kemudian dilanjut Mauidhoh dan Doa oleh KH Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan sapaan Gus Mus. Dalam mauidhohnya, beliau dengan antusias menceritakan seputar Mbah Munawwir sang pemilik sanad qura’n utama pada abad ke-20.

Gus Mus Memberikan Tausiah Pada Acara Puncak Haul KH. M. Munawwir ke-84

Baca juga: Haul KH. Muhammad Munawwir ke-84, Gus Mus: Sanad Al-Qur’an Utama Abad 20 di Nusantara Yaitu Mbah Munawwir

Beliau mengingat bahwa Mbah Munawwir saat itu sangat “masyaallah”. Mengenal Kiai Abdul Qadir, Kiai Abdullah, Kiai Dalhar, Mbah Arwani Kudus, Kiai Umar (Mangkuyudan), dan Kiai Muntaha. Semuanya adalah santri Mbah Munawwir yang bukan merupakan Ahli Qur’an tetapi Al-Qur’an berjalan.

Ahli Qur’an artinya menghafalkan Al-Qur’an, tentu saat ini sangat mudah ditemukan, setiap bertemu seseorang mesti hafal Al-Qur’an. Adapun yang susah ditemukan yaitu orang-orang yang perilakunya mencerminkan Al-Qur’an.

Mengetahui kealiman, jumlah santri, dan ketawadhu’an dari Mbah Arwani dan Kiai Umar kemudian menjadi pencetus teringat kembali memori seputar Mbah Munawwir yang penuh dengan sifat tawadhu’, alim dan saat ini santrinya sangat “membludak”.

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Artinya:

Sesungguhnya Kami menghidupkan (kembali) orang-orang (yang telah) mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan (yakni amal-amal mereka yang diikuti oleh generasi sesudahnya). Dan segala sesuatu Kami pelihara dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS Yasin ayat 12)

Gus Mus menjelaskan “ma qoddamu” (amal-amal) dan “wa aatsarahum” (pengaruh) pada sosok Mbah Munawwir saat itu, sudah tidak bisa dihitung untuk zaman sekarang. Santrinya tersebar di seluruh nusantara bahkan sanad Al-Qur’an utama pada abad ke-20 di nusantara ini adalah Mbah Munawwir.

Baca juga: Refleksi Majelis Ziarah Maqbaroh: Haul KH. M. Munawwir ke-84

Adapun hal yang paling utama dan bisa dinikmati semua orang yaitu berdirinya Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak.

Menjadi bukti ketawadhu’an Mbah Munawwir dan beberapa kiai lainnya, memberi nama pondok pesantren yang didirikannya dengan nama desa tempat pondok itu berdiri seperti PP Krapyak, PP Tebuireng, PP Termas, PP Lirboyo dan yang lain. Sangat berbeda dengan kondisi saat ini, yang memberi nama dengan gaya-gayaan.

Dulu saya ingat saat mengaji kepada Kiai Abdul Qodir, baru a’udzu billah saja, bisa lulus setelah seminggu, Al-Fatihah-nya tiga bulan, apalagi ayah saya waktu itu satu tahun baru lulus Al-Fatihah. Bila shalat harus dengan Al-Fatihah yang diajarkan Krapyak ini, berapa banyak orang yang telah belajar di sini. Kita mendapatkan jasa yang berhutang rasa dengan pendiri-pendiri Krapyak dan keturunannya. Ini masih dalam bab Al-Fatihah.

Tutur Gus Mus
Sumber Gambar: Media Al-Munawwir

Gus Mus kemudian menegaskan bahwa seharusnya setiap orang bersyukur sebab memiliki sangkut paut dengan Mbah Munawwir.

Kulo santrine Kiai Ali dadi ora percoyo kaleh wali. Kiai Ali kaleh bapak kulo ora percoyo karo wali – wali. Tapi ne’ kulo Kiai Munawwir kulo nyekseni mesti wali, ne’ Kiai Munawwir ora’ wali wes ra’ ono wali ngono ae. Mergo hamilul quran bukan hafidzul quran.

(Saya santrinya Kiai Ali Maksum, jadi tidak percaya dengan adanya wali. Kiai Ali dengan bapak saya tidak percaya dengan wali-wali. Tapi kalau menurut saya Kiai Munawwir itu sudah pasti wali. Bila Kiai Munawwir bukan wali maka tidak ada wali. Sebab beliau itu hamilul qur’an (sang pembawa Al-Qur’an), bukan sekedar hafidzul qur’an (penghafal Al-Qur’an).

Tutur Gus Mus yang sangat menyakini bahwa Mbah Munawwir adalah seorang wali.

Baca juga: KH. M. Munawwir adalah Bukti Sebuah Riyadhoh

Mbah Munawwir tidak menghafal Al-Qur’an tetapi Hamilul Quran, pembawa Al-Qur’an. Jika dipandang dari santri–santrinya Mbah Munawwir adalah seorang kiai yang sangat mencintai santrinya. Hal itu, dapat dilihat dari ketawadhu’an yang ditampilkan oleh setiap santrinya.

Tunjukkam saya seorang santri, maka saya akan tau siapa kiainya.

Tegas Gus Mus dalam tausiyahnya.

Beliau menilai bahwa ketawadhuan dari santri-santrinya Mbah Munawwir itu bersumber dari Mbah Munawwir sendiri. Bukti ketawadhu’an salah satu santri beliau yaitu Kiai Umar (Mangkuyudan) yang mengajak seorang anak kecil untuk bercanda.

Cah cilik diajak guyon kiai, sampean bayangke mawon rasane piye.

Tutur Gus Mus dalam menceritakan masa kecilnya.

Dilanjut dengan penegasan bahwa santri Mbah Munawwir yang beliau kenali semuanya adalah Al-Qur’an berjalan. Semuanya adalah seorang yang sampai pada sebutan Hamilul Qur’an.

Semoga dengan mengingat tauladan-tauladan Mbah Munawwir dan santri-santrinya, kita semua mendapatkan ibroh dan keberkahan sehingga mampu menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: Irfan Fauzi

Baca juga: Membangun Keistimewaan: Peran Awal KHM Munawwir dalam Menata Kehidupan Sosial Keagamaan di Yogyakarta 1910-1942.

Narda Nasar

Narda Nasar

Narda Nasar

Santri Komplek Nspi Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak. Minat Kajian di Sastra Berupa Opini, Puisi, Kisah dan lainnya.

5

Artikel