Rahasia Ganjil dalam Perjalanan Nabi

Rahasia Ganjil dalam Perjalanan Nabi
Sumber: Unsplash

Kita sering mendengar kisah itu sejak kecil. Tentang perjalanan malam yang menembus batas langit dan pertemuan agung yang tak pernah dialami manusia lain. Setiap tahun namanya disebut, kisahnya diulang, bahkan diperingati dengan penuh hormat. Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, “apa sebenarnya makna yang hendak disampaikan dari perjalanan itu?” Mengapa Al-Qur’an menceritakan kejadiannya dengan jelas, namun tidak pernah menegaskan tanggalnya. Di sanalah barangkali tersembunyi makna yang lebih dalam untuk kita renungi bersama.

Kisah ini bukan sekadar cerita pengorbanan. para ulama sejak dahulu mencoba menggali rahasia yang tersembunyi di baliknya. dari sinilah kita menemukan penjelasan para ahli tafsir tentang makna ujian tersebut.

ﻗَﺎلَ اﻟﺠُﻨَﯿْﺪُ اﻟﺒَﻐَﺪَادِ ﱡي رَﺣِﻤَﮫُ ُﷲ: اﻟﻄﱠﺮِﯾْﻖُ إِﻟَﻰ ِﷲ ﻣَﺴْﺪُودٌ إِ ﱠﻻ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦِ اﻗْﺘَﻔَﻰ أَﺛَﺮَ اﻟ ﱠﺮﺳُﻮلِ

Imam Al-Junaid Al-Baghdadi pernah berkata, “Jalan menuju Allah tertutup, kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasul.”

وَﻗَﺎلَ اﺑْﻦُ ﻋَﻄَﺎءِ ِﷲ اﻟ ﱠﺴﻜَﻨْﺪَرِ ﱡي: ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﺗُﺸْﺮِقْ ﺑِﺪَاﯾَﺘُﮫُ ﻟَﻢْ ﺗُﺸْﺮِقْ ﻧِﮭَﺎﯾَﺘُﮫُ

Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari mengingatkan, “Siapa yang tidak bercahaya pada awalnya, tidak akan bercahaya pada akhirnya.”

Perjalanan menuju Allah bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah kenaikan derajat. Ia adalah perjalanan batin. Dan puncak dari seluruh perjalanan itu pernah dialami oleh Rasulullah ﷺ dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Namun ada satu hal yang menarik, langit menceritakan peristiwanya, tetapi tidak menetapkan tanggalnya. Di situlah kita mulai membaca rahasia.

Sumpah tentang yang Ganjil

Allah berfirman dalam QS. Al-Fajr: 3

وَاﻟ ﱠﺸﻔْﻊِ وَاﻟْﻮَﺗْﺮِ

Ayat ini memberi gambaran bahwa setiap ujian memiliki batasnya. para mufassir kemudian menjelaskan bahwa, dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām Al-Qur’ān, Imam Al-Qurṭubi menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna “واﻟﻮﺗﺮ اﻟﺸﻔﻊ”. Sebagian menafsirkan اﻟﺸﻔﻊ sebagai seluruh bilangan genap, dan اﻟﻮﺗﺮ sebagai seluruh bilangan ganjil. Sebagian lain mengatakan اﻟﺸﻔﻊ adalah makhluk yang berpasangan, sedangkan اﻟﻮﺗﺮ adalah Allah, karena Dia Maha Esa dan tidak berbilang.

Imam Al-Qurṭubi menegaskan bahwa Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang memiliki kemuliaan dan makna besar. Maka penyebutan genap dan ganjil bukan sekadar angka, melainkan isyarat tentang tatanan ciptaan dan ketunggalan Sang Pencipta. Dalam ibadah pun pola itu terasa: shalat witir di penghujung malam, tujuh putaran thawaf, tujuh kali sa’i, tujuh lapis langit. Seakan ada irama yang Allah ulang dalam syariat-Nya, irama yang tidak selalu dijelaskan, tetapi dapat direnungi.

Sidratul Muntaha: Batas yang Tidak Terlampaui

Allah menggambarkan puncak perjalanan itu dalam Surah An-Najm ayat 14-18:

ﻋِﻨﺪَ ﺳِﺪْرَةِ اﻟْﻤُﻨْﺘَﮭَٰﻰ ۝ ﻋِﻨﺪَھَﺎ ﺟَﻨﱠﺔُ اﻟْﻤَﺄْوَٰى ۝ إِذْ ﯾَﻐْﺸَﻰ اﻟ ﱢﺴﺪْرَةَ ﻣَﺎ ﯾَﻐْﺸَٰﻰ ۝ ﻣَﺎ زَاغَ اﻟْﺒَﺼَﺮُ وَﻣَﺎ طَﻐَٰﻰ ۝ ﻟَﻘَﺪْ رَأَٰى ﻣِﻦْ آﯾَﺎتِ رَﺑﱢﮫِ اﻟْﻜُﺒْﺮَٰى

Dalam Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat-ayat ini berkaitan dengan peristiwa Mi’raj. Sidratul Muntaha adalah batas akhir yang tidak dilewati makhluk mana pun. Di sanalah Rasulullah ﷺ diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah.

Tentang ayat:

ﻣَﺎ زَاغَ اﻟْﺒَﺼَﺮُ وَﻣَﺎ طَﻐَٰﻰ

Ibnu Katsir menerangkan bahwa penglihatan Nabi ﷺ tidak menyimpang dari apa yang diperintahkan untuk dilihat, dan tidak melampaui batas yang ditetapkan baginya. Dalam keadaan yang begitu agung, beliau tetap dalam adab yang sempurna.

Ini bukan sekadar kisah langit. Ini pelajaran tentang kendali diri di puncak kemuliaan.

Semakin tinggi diangkat, maka semakin dalam adabnya.

Mengapa Tanggalnya Tidak Ditetapkan?

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang pasti kebenarannya. Namun tentang waktu terjadinya, para ulama berbeda pendapat.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa Al-Nihayah menyebutkan:

وَﻗَﺪِ اﺧْﺘُﻠِﻒَ اﻟﻨﱠﺎسُ ﻓِﻲ وَﻗْﺖِ اﻹِﺳْﺮَاءِ، ﻓَﻘِﯿْﻞَ ﻛَﺎنَ ﻗَﺒﻞَ اﻟﮭِﺠْﺮَةِ ﺑِﺴَﻨَﺔٍ، وَﻗِﯿْﻞَ ﺑِﺴَﻨَﺘَﯿْﻦِ، وَﻗِﯿْﻞَ ﺑِﺜَﻼَثٍ، وَﻗِﯿْﻞَ ﺑِﺨَﻤْﺲٍ، وَﻗِﯿْﻞَ ﻏَﯿْﺮَ ذَﻟِﻚَ، وَُﷲ أَﻋْﻠَﻢُ

“Manusia berbeda pendapat tentang waktu Isra’. Ada yang mengatakan setahun sebelum hijrah, ada yang mengatakan dua, tiga, bahkan lima tahun sebelumnya, dan ada pula pendapat lainnya. Dan Allah lebih mengetahui.”

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari juga menyatakan:

وَاﺧْﺘُﻠِﻒَ ﻓِﻲ ﺷَﮭْﺮِ اﻹِﺳْﺮَاءِ ﻓَﻘِﯿْﻞَ ﻓِﻲ رَﺟَﺐٍ، وَﻗِﯿْﻞَ ﻓِﻲ رَﻣَﻀَﺎنَ، وَﻗِﯿْﻞَ ﻓِﻲ ﺷَ ﱠﻮالٍ، وَﻗِﯿْﻞَ ﻓِﻲ ﻏَﯿْﺮِ ذَﻟِﻚَ

“Terjadi perbedaan pendapat tentang bulan Isra’. Ada yang mengatakan Rajab, ada yang mengatakan Ramadhan, ada yang mengatakan Syawal, dan ada pendapat lainnya.”

Perbedaan itu menunjukkan bahwa tidak ada kesepakatan pasti tentang penanggalannya. Kemudian Ibnu Taimiyah dalam Majmū‘ Al-Fatāwā juga menyatakan:

وَﻟَﻢْ ﯾَﻘُﻢْ دَﻟِﯿْﻞٌ ﻣَﻌْﻠُﻮْمٌ ﻻَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﮭْﺮِهِ وَﻻَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺸْﺮِهِ وَﻻَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﯿْﻨِﮫِ، ﺑَﻞِ اﻟﻨﱡﻘُﻮلُ ﻓِﻲ ذَﻟِﻚَ ﻣُﻨْﻘَﻄِﻌَﺔٌ ﻣُﺨْﺘَﻠِﻔَﺔٌ

“Tidak ada dalil yang diketahui secara pasti tentang bulannya, tidak pula tentang sepuluh harinya, dan tidak pula tentang malamnya secara spesifik. Riwayat-riwayat dalam hal itu terputus dan berbeda-beda.”

Pernyataan ini bukan meragukan peristiwa Isra’ Mi’raj. Ia hanya menegaskan bahwa rincian waktunya bukan inti yang ditekankan wahyu. Langit menceritakan kejadiannya. Tetapi tidak mengikatnya pada kalender.

Mungkin karena yang ingin ditekankan bukan tanggalnya, melainkan maknanya.

Bukan malamnya, tetapi pelajarannya.

Ganjil yang Lebih Dalam

Jika Allah bersumpah dengan yang ganjil, dan perjalanan Nabi ﷺ adalah perjalanan menuju Yang Maha Esa, maka ganjil di sini tidak lagi sekadar bilangan. Ia menjadi simbol, sebuah simbol hati yang tidak bercabang, tujuan yang tidak mendua, dan arah yang tidak terbelah.

Seakan ada pesan yang lebih dalam daripada sekadar sejarah. Bahwa kedekatan tidak membuat seseorang melampaui batas. Bahwa kenaikan tidak membuat seseorang kehilangan adab. Bahwa yang sampai bukanlah yang paling tinggi ilmunya, tetapi yang paling lurus arah hatinya. Dan rahasia ganjil itu barangkali bukan tersembunyi di kalender, tetapi di dalam dada pada hati yang berani memilih satu arah, pada jiwa yang tidak lagi mendua, dan pada langkah yang hanya menghadap kepada-Nya.

Karena perjalanan Nabi ﷺ bukan sekadar naik menembus langit tinggi, melainkan tetap merunduk dalam sujud sunyi, meski berada paling dekat dengan Ilahi.

Penulis: Gesang Nanda Saudjana

Redaksi

Redaksi

admin

554

Artikel