Seni Menghargai “Proses” dan Mengurangi “Protes”

Seni Menghargai “Proses” dan Mengurangi “Protes”

 

Aku bukanlah siapa tanpa sabar dan guncangan

Dia bukanlah siapa tanpa proses yang tak berujung

Kita bukanlah siapa tanpa duri yang tajam

 

Sebelum membahas lebih dalam alangkah lebih baiknya jika terlebih dahulu kita mengetahui apa itu proses dan protes. Proses dikenal sebagai runtutan perubahan yaitu tahapan-tahapan dalam melakukan sebuah perubahan untuk mencapai target yang telah ditentukan. Sedangkan protes, yaitu pernyataan tidak menyetujui, menentang dan menyangkal. Maka, protes adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk menyanggah sebuah argumen dan menyuarakan pendapat.

Dalam kehidupan sehari-hari perlu adanya sebuah proses untuk terus melakukan upgrade terhadap pribadi masing-masing. Selain itu, kesadaran juga dibutuhkan untuk meningkatkan semangat dan mengurangi protes terhadap setiap hambatan yang muncul beriringan dengan hidup yang sedang di jalani. Hal ini dilakukan, guna menambah value sehingga kelak mampu menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat atau bangsa. Adapun salah satu contoh proses yaitu :

Metamorfosis seekor Kupu -Kupu

Semua orang mengetahui bahwa kupu-kupu yang indah berasal dari ulat yang dianggap menjijikkan oleh sebagian orang. Pada peristiwa ini ada berbagai proses yang sudah dilalui salah satunya menjadi kepompong selama beberapa minggu. Membungkus diri menyerupai guling dan bergelantung di ranting pohon. Dari contoh ini kita bisa mengetahui bahwa proses adalah suatu istilah yang tentunya selalu berdampingan dengan kata sabar.

Seekor Ulat kerap kali membuat semua kalangan menjerit saat berjumpa dengannya tetapi siapa sangka setelah berproses Ulat tersebut kemudian menjelma menjadi seekor Kupu-kupu yang kerap kali dikejar oleh anak-anak saat bermain di taman. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa dengan proses dan disertai sabar maka segala sesuatu bisa berubah. Maka lakukanlah kedua hal tersebut secara berdampingan.

Walaupun berdasarkan realita yang ada banyak orang-orang yang lebih menyukai hal-hal yang bersifat instan dan tidak memiliki sifat sabar dalam menjalankan proses. Hal tersebut, sering kali diiringi dengan sifat overthinking yang kemudian berlanjut dengan melakukan protes terhadap segala hal yang terjadi tanpa sedikitpun sadar bahwa ini adalah bagian dari proses. Ada satu hal yang perlu kita ingat dalam kehidupan sehari-hari bahwa:

“Setiap orang punya masanya dan setiap masa punya ceritanya”

Terbentuknya kesadaran ini, merupakan awal untuk menghargai setiap proses dan mengurangi protes. Dengan proses seseorang bisa mengerti bahwa segala sesuatu yang dikehendaki tidak harus dimilikinya, ada dzat yang mengatur segalanya. Sebagai manusia kita perlu bersabar, menanamkan sifat qanaah, dan selalu bersyukur dengan segala kejutan di setiap harinya. Ada beberapa hal yang bisa diterapkan untuk meningkatkan proses dan mengurangi protes, yaitu sebagai berikut :

1. Berfikir Positif (Positive Thinking)

Sebagai makhluk sosial sudah sewajarnya jika memiliki kecemasannya masing-masing mengenai hidup yang sedang di jalani. Tetapi yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana cara seseorang bersikap dan bagaimana seseorang mampu menforsir kecemasan yang sedang melanda. Tentunya sebagai seseorang yang mempercayai dan menyakini adanya Tuhan tidak seharusnya memiliki kecemasan akan hari esok.

Sudah menjadi hal lumrah jika terjadi banyak peristiwa di saat seseorang berproses, justru dengan peristiwa-peristiwa tersebut karakter dan mental terbentuk dengan sendirinya. Dengan terbentuknya kedua aspek di atas, maka secara tidak langsung membuat seseorang kemudian lebih bijak dalam bertindak dan berucap. Sehingga kemudian menjadikan pribadi tersebut sebagai pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.

2. Menjadikan Masa Lalu Sebagai Pemicu Semangat

Salah satu pemicu seseorang tidak bisa berkembang karena adanya kegagalan di masa lalu yang kemudian membuat seseorang tidak lagi ingin berproses. Rasa sakit akan pengkhianatan dari perjuangan kerap kali tersimpan rapi pada memori, Percaya atau tidak tetapi buah yang jatuh dari pohonnya tidak selamanya karena mateng tetapi kadang karena ada faktor lain. Hal seperti itu adalah hal wajar yang tidak seharusnya dicemaskan karena siklus kehidupan akan selalu bekerja sesuai alurnya.

Dengan adanya masa lalu dan banyaknya hal yang seseorang lalui justru bisa membuatnya lebih banyak mengetahui mengenai suatu hal. Walaupun, kerap kali seseorang ingin melupakan masa lalu tanpa sadar bahwa masa lalu dapat dijadikan sebagai sumber belajar untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya. Jika kegagalan di masa lalu karena faktor kemalasan maka dari sekarang hilangkan kemalasan tersebut demi meminimalisir terjadinya kegagalan selanjutnya.

3. Terus Berdoa

Keluar dari zona nyaman salah satu hal yang kerap kali perlu dilakukan walaupun banyak ketakutan yang menumpuk dalam diri. Sebagai manusia yang hidup di era 5.0 maka perlu adanya kesadaran bahwa seiring bergantinya hari maka teknologi juga semakin canggih. Agar tidak mengalami ketertinggalan zaman maka seseorang perlu berproses untuk terus mengasah setiap kemampuan yang dimilikinya.

Ingat bahwa segala sesuatu yang sifatnya impossible mampu menjadi kenyataan hanya dengan Allah Swt. berucap “Kun Fayakun”. Maka jangan takut dengan mimpi dan rintangan teruslah melangitkan doa hingga semuanya tidak lagi sebatas ekspektasi belaka. Walaupun berdasarkan realita, masyarakat kerap kali bermimpi tetapi tidak melakukan action apapun. Berdoa, bersabar, berproses, dan aktualisasi diri adalah sepaket aspek yang tidak bisa dipisahkan.

Jika dihadapkan pada pertanyaan mengapa hal ini perlu?

Maka, jawabannya simpel yaitu karena hidup ini bukan hanya tentang kamu, aku dan dia tetapi ini tentang kita semua, kelak siapa yang mau berproses maka dia termasuk orang pilihan, siapa yang mau bersabar dan menerima keadaan tanpa adanya protes maka dialah pemenangnya. Berhenti membandingkan diri karena start point seseorang berbeda maka hasilnya juga pasti berbeda.

 

Oleh : Narda Nasar (Santri Komplek Nurussalam Putri)

Editor : Irfan Fauzi

Redaksi

Redaksi

admin

522

Artikel