Syah Waliyullah ad-Dahlawi: Biografi dan Kontribusinya dalam Pemahaman Hadis

Syah Waliyullah ad-Dahlawi: Biografi dan Kontribusinya dalam Pemahaman Hadis

Almunawwir.com – Umat Islam memandang hadis yang dirumuskan dari sunnah memiliki harga mati dan tidak dapat ditawar lagi dalam pengamalannya. Sebagian ulama memandang hadis sebagai syariat yang mengikat (as-sunnah kulluha tasyri’iyyah) sehingga semua yang berasal dari Nabi wajib diikuti. Maka apabila ada yang tidak mengamalkannya, disebut ahli bid’ah.

Namun ada beberapa ulama yang menganggap Muhammad juga manusia biasa yang besar dalam budaya dan bersosial. Tidak semua ucapan hadis bersifat mengikat atau wajib diamalkan karena itu bukan bentuk suatu hukum (ghair at-tasyri’iyyah).

Persoalan bagaimana memahami hadis Nabi menjadi persoalan yang sangat menarik sekaligus penting. Tidak hanya di kalangan Muslim namun kajian ini juga menarik perhatian para sarjana Barat, sehingga banyak dikaji ulama dari zaman ke zaman. Menambal variabel bangunan teoretis yang bercelah.

Untuk menengahi perbedaan dua pendapat tersebut, ad-Dahlawi memiliki konsep pemikiran tentang klasifikasi pemahaman hadis. Selain itu, ia memiliki pemikiran tentang tingkatan validitas hadis dan pemikiran lainnya yang berkaitan dengan pemahaman serta penerimaan hadis.

Syah Waliyullah ad-Dahlawi adalah seorang pemikir yang sangat tanggap terhadap berbagai krisis yang terjadi pada masanya. Selalu menampilkan sikap moderat dan mencari manfaat dalam berbagai perintah yang disampaikan dalam hadis Nabi dan firman Allah Swt.

Biografi Syah ad-Dahlawi

Nama lengkapnya adalah Qutb ad-Din Ahmad ibn as-Syahid ibn Muazzam ibn Mansur ibn Ahmad ibn Mahmud ibn Qiwam ad-Din. Lebih dikenal dengan sebutan Syah Waliyullah ad-Dahlawi. Lahir pada hari Rabu, 14 Syawal 1114/21 Februari 1703 di Delhi.

Bergelar Shaa atau Syah Waliyullah. Ia adalah anak pertama dari perkawinan kedua ayahnya, Hasib Naseer (di usia 60 tahun). Adapun ayahnya berasal dari cucu Sayyid Naseer ad-Din as-Shahih, dan masih terhubung dengan Imam Musa al-Kazim.

Baca juga:

Hasib Naseer merupakan salah satu tokoh dan ulama terkemuka yang mengulas fatwa di India (seorang pengamal tarekat Naqsabandiyah, Chistiyah, dan Qadiriyah). Di bawah bimbingan ayahnya, Syah Waliyullah ad-Dahlawi masuk tarekat Naqsabandiyah saat berusia 15 tahun.

Oleh karena itu, kehidupan sehari-harinya dihabiskan dengan riyadhah. Sedangkan di kalangan fikih, beliau cenderung mengikuti Imam Hanafi, sekaligus juga mempunyai respons besar terhadap Imam Syafi’i.

Beliau wafat pada Sabtu sore, 29 Muharram 1176 H/20 Agustus 1762 M di usia 62 tahun. Satu lingkup dengan ayahnya, beliau dimakamkan di tempat kelahirannya. Setelah wafat, ajaran-ajarannya dilanjutkan oleh para keturunan, terutama dua anak laki-lakinya, yaitu Syah Abdul Aziz (w. 1823 M) dan Syah Rafiuddin (w. 1818 M). Serta cucunya, Syah Ismail Syahid (w. 1831 M).

Adapun karya-karya beliau di antaranya, yaitu: 1) Musawa Muwatha, 2) Mushaffa Muwatha, 3) Hujjat Allah al-Baligah, 4) Izalat al-Khafa ‘an Khilafat al-Khulafa, 5) Al-Fauz al-Kabir Fi Usul at-Tafsir, 6) Al-Insaf fi Bayan Asbab al-Ikhtila, 7) At-Tafhimat al-Ilahiyyah.

Sumbangsih Syah ad-Dahlawi dalam Ilmu Hadis

Syah Waliyullah membagi hadis menjadi dua. Pertama, hadis disampaikan Nabi saw sebagai pembawa risalah (utusan Allah), seperti ilmu tentang akhirat, mukjizat, dan ketentuan-ketentuan ibadah. Kedua, hadis yang disampaikan Nabi sebagai manusia biasa.

Dalam kitabnya, Hujjah Allah al-Balighah, Dahlawi mengatakan bahwa pada saat ini satu-satunya cara untuk menerima riwayat mutawatir adalah mengikuti kitab-kitab hadis. Sebab tidak ada riwayat yang dipercayakan kecuali telah dituliskan.

Berbeda dengan masalah kemaslahatan. Karena kemaslahatan bisa diketahui melalui pengalaman, pemikiran yang benar, dan perkiraan. Kemudian Dahlawi mengklasifikasi hierarki kitab hadis dari segi validitasnya sebagi berikut:

  • Pertama, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan al-Muwatha’ Imam Malik.

Menariknya di sini adalah Dahlawi memasukkan kitab Imam Malik simetris atau sejajar dengan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Padahal kitab ini tidak masuk dalam al-Kutub al-Sittah (meskipun ia tergolong al-Kutub at-Tis’ah).

Baca juga:

Hal ini karena menurutnya, al-Muwatha’ merupakan bekal pokok bagi madzhab Maliki, pegangan bagi Syafi’i dan Ahmad, serta pelita bagi Abu Hanifah. Hubungan madzahib ini dengan al-Muwatha’ tak ubahnya hubungan matan dengan kitab syarahnya. Sedangkan kitab yang lima adalah sebagai pelengkap kekurangan al-Muwatha’.

Jika ditelaah secara mendalam maka akan didapatkan empat alasan mengapa Syah Wali Allah ad-Dahlawi menyimetriskan al-Muwatha’ Malik dengan Sahihain. Pertama, al-Muwatha’ merupakan kitab rujukan para ulama. Kedua, kualitas hadis. Ketiga, kriteria hadis sahih.

Karena Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Malik menggunakan kriteria yang sama. Keempat, kredibilitas intelektual dalam hal menyeleksi hadis Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Malik merupakan tokoh yang sama-sama selektif dalam proses menyeleksi hadis dan juga menilai seorang perawi.

  • Kedua, Sunan Abu Daud, Jami’ at-Tirmidzi, dan Sunan an-Nasai.
  • Ketiga, Musnad, Jami’, dan Mushannaf.

Kitab tersebut ditulis sebelum, ketika, dan sesudah Imam Bukhari. Yang menggabungkan riwayat shahih, hasan, dhaif, munkar, dan lain-lain yang kurang populer di kalangan ulama. Karena tujuan pengarang kitab-kitab ini hanya ingin mengumpulkan hadis-hadis yang mereka dapatkan, bukan untuk mencari atau menyaring yang paling baik.

  • Keempat, Kitab-kitab yang disusun untuk menghimpun hadis-hadis yang tidak termuat dalam kitab nomor satu dan dua, dan hadis-hadis yang terdapat dalam kitab-kitab Jami’ dan Musnad yang kurang populer. Hadis-hadis tersebut dapat ditemukan dalam kitab ad-Duafa karya Ibnu Hibban, al-Kamil karya Ibnu Adi, kitab-kitab karya al-Khatib, dan lain sebagainya.
  • Kelima, Hadis-hadis yang populer di kalangan fuqaha, sufi, sejarawan, dan lainnya.

Hadis-hadis tersebut tidak memiliki dasar pijak pada keempat kitab yang disebutkan di atas. Meliputi hadis-hadis yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mempedulikan agamanya, orang yang mengetahui bahasa hadis kemudian menciptakan mata rantai seakan “terlihat” kuat, sehingga dianggap sebagai hadis dari Nabi saw.

Epilog

Dominasi pemikiran ad-Dahlawi dalam karyanya mengarah pada inovasi akal untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan sebagai umat Muslim untuk mengamalkan syariat Islam. Tetapi seperti yang kita tahu, di setiap pemikiran manusia pasti ada celahnya. Dan yang harus kita pahami pula adalah bahwa hal tersebut bukanlah merupakan suatu kesalahan. Itu suatu hal biasa yang membuktikan bahwa manusia sungguh tidak ada daya dan upaya kecuali milik Allah Swt. Waallahu a’lam

Penulis: Maidah Habib Shodiq

Editor: Abdillah Amiril Adawy

Redaksi

Redaksi

admin

522

Artikel