Burdah dan Kemustajaban Dibalik Bait-baitnya

Burdah dan Kemustajaban Dibalik Bait-baitnya

Almunawwir.com – Pembacaan qashidah burdah dalam rangka Haul KH. M. Munawwir bin Abdillah Rosyad ke-84 telah terlaksana pada Ahad (01/01). Begitu antusiasnya para santri berduyun-duyun dari berbagai komplek mengikuti kegiatan pada malam hari itu.

Nampaknya Imam al-Bushiri (w. 696 H/1295 M) telah menyihir para santri hingga mereka mabuk kepayang dalam lautan bait-baitnya. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas dilakukan sebagai bentuk ta’dziman wa tahriman haul Simbah Munawwir.

Burdah
Sumber Gambar: Tim Media Al-Munawwir

Berbicara tentang burdah, sedikit saya ajak refleksi kembali kenapa qashidah burdah ini begitu fenomenal hampir di kalangan muslim, terutama di universe pesantren. Tentu hal ini tidak lepas dari sosok penyair itu sendiri.

Imam al-Bushiri jauh sebelum menggubah bait burdah yang masyhur itu, sebenarnya beliau telah mengalami berbagai cobaan yang cukup berat.

Baca juga: Bahtsul Masail Qur’aniyyah dan Cerita-Cerita yang Dihadirkannya

Sekilah Tentang Imam Al-Bushiri

Al-Bushiri memiliki nama lengkap yaitu Abu Abdillah Syarafuddin bin Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdillah bin Shanhaj bin Mallal al-Bushiri. Nama terakhir ini adalah laqob dari desa kelahiran ibu dan dirinya di Mesir. Sedang ayahnya berasal dari Dilash (desa di pesisir sungai Nil).

Namun sejak kecil al-Bushiri tinggal di Belbeis (sebuah kota benteng kuno di tepi timur dari selatan delta Nil di Mesir). Al-Bushiri kecil sudah gemar belajar membaca Al-Qur’an, hingga kemudian ia mampu menghafal 30 juz.

Usai menghafal, al-Bushiri melanjutkan studinya di Kairo. Saat itu, Kairo sudah menjadi kota besar yang dihuni banyak ulama ternama. Di kota seribu menara ini, beliau mendalami pengetahuan Islam.

Namun perhatiannya lebih besar pada kajian sastra Arab, sejarah, dan kaligrafi. Mengenal potensi seni yang dimiliki dirinya, akhirnya keahlian tersebut beliau tekuni hingga menjadi sumber penghasilannya.

Burdah
Para santri dan Ahlen tengah Membaca Qashidah Burdah di Halaman Pondok

Keahlian menggubah syair-syair pujian, beliau ciptakan kepada para penguasa untuk dikonsumsi khalayak ramai, sebab inilah beliau sangat dekat dengan raja dan para penguasa. Serta keahlian melukis kaligrafinya, beliau manfaatkan untuk berkerja sebagai penghias batu nisan.

Meskipun demikian, al-Bushiri termasuk orang yang kekurangan secara finansial. Terlebih setelah menikah dan memiliki banyak anak. Melihat imbalan yang diterima pun tidak seberapa. Akhirnya berbagai upaya beliau relakan mencari beberapa pekerjaan yang mampu memulihkan finansialnya.

Baca juga: Perjalanan Burdah Nabi Sampai Ke Turki

Akan tetapi hasilnya tetap saja nihil, hal itu tidak lain karena beliau tidak memiliki keterampilan dan pengalaman kerja. Teguran dan cemooh dari atasan kerja ataupun masyarakat sekitar sudah menjadi buah bibir di telinga al-Bushiri dan keluarganya.

Dari sinilah, Imam al-Bushiri sudah diambang batas atas kehidupan yang pahit, terhimpit ekonomi, dan kesendirian yang mendalam. Puncaknya, beliau memilih untuk menenangkan diri dan mendalami ilmu tasawuf.

Tasawuf Mengubah Kehidupan Al-Bushiri

Setelah hidup dengan penuh gemerlap dunia, dekat dengan para penguasa demi mendapatkan kemasyhuran dan sebuah imbalan, serta menjalani serabutan pekerjaan agar memenuhi kehidupan keluarganya.

Pada usia 40-an, Imam al-Bushiri mulai belajar ilmu tasawuf kepada murid dari Imam al-Syadzili yang bernama Abu al-Abbas al-Mursi (w. 686 H). Beliau memilih bergabung ke dalam Tarekat Syadziliyyah.

Sebab itu, beliau sering mengamalkan hizb sesuai yang diajarkan dalam tarekat ini. Hingga akhir hayat, al-Bushiri mendalami kehidupan tasawuf dan menjauhi kehidupan dunia yang fana.

Melihat dari histori di atas, nampaknya akan sesuai bilamana Imam al-Bushiri menggubah bait burdah ini pasca melewati semua ujian beratnya. Salah satunya adalah beliau pernah menderita sakit lumpuh, hingga tidak mampu berjalan.

Baca juga: Dua Murid KH M Munawwir, Beda Nasib Bertemu Nasab

Berkat wasilah dari gubahan syair-syair yang berisi sanjungan dan pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam mimpinya, beliau bertemu dengan Nabi, lalu Nabi mengecup ubun-ubun al-Bushiri dan menyelimuti tubuhnya dengan burdah (selendang) yang biasa Nabi pakai.

Ajaibnya, setelah terbangun dari tidur, derita Imam al-Bushiri yang menurut dokter sudah divonis tidak dapat disembuhkan lagi, kini penyakit tersebut sembuh begitu saja.

Burdah
KH.R. Abdul Hamid AQ tengah Memimpin Doa

Baca juga: [Press Release] Semarak Haul KH. Muhammad Munawwir Ke-84

Inilah mengapa qashidah burdah karangan Imam al-Bushiri ini banyak menarik perhatian para ulama untuk menulis syarah pada bait-baitnya.

Di samping gaya bahasa (stilistika) dan retorika bahasa yang mengandung nilai sastra yang sangat tinggi. Juga para ulama meyakini dengan melantunkan burdah, seseorang akan memperoleh keberkahan Nabi sebagaimana peristiwa al-Bushiri bertemu dengan Nabi dalam mimpinya.

Qashidah Burdah dengan judul asli Al-Kawakib al-Durriyyah fi Madh Khair al-Bariyyah ini ditulis saat al-Bushiri telah mendalami ilmu tasawuf dengan hati yang bersih dan tingginya cinta kepada kekasihnya (Nabi Muhammad).

Sebab itulah tidak diragukan lagi kandungan di dalam qashidah tersebut penuh dengan hikmah. Hal ini tergambarkan dalam baitnya, bahwa penulisan burdah sangat berbeda jauh dengan apa yang pernah ditulis Zuhair bin Abi Sulma, seorang pujangga ternama pada masa jahiliyyah serta dikenal religius, kaya raya dan gemar berbuat baik.

وَلَمْ اُرِدْ زَهْرَةَ الدُّنْيَا الَّتِي اْقتَطَفَتْ * يَدَا زُهَيْرٍ بِمَا أَثْنَى عَلَى هَرِمِ

“Aku tidak menginginkan kemewahan dunia seperti yang diperoleh Zuhair bin Abi Sulma sebab pujiannya terhadap Harim bin Sinan bin Hayyan.”

Baca juga: Teori Stephen R. Covey; “Menjadi Manusia Efektif dan Produktif”

Begitu ikhlasnya beliau mengarang burdah ini, di dalam hatinya hanya terbayang sosok kekasih yang dirindukannya sepanjang malam, alunan bait yang merdu itu menggambarkan begitu agungnya mencintai orang yang didambakan para perindu, kekasih itu tidak lain tertuju kepada Rasulullah Saw.

اِذَا اَنْتَ لَمْ تَعْشَقْ وَلَمْ تَدْرِ مَا اْلهَوَى، فَكُنْ حَجَرًا مِنْ يَابِس الصَّخْرِ جَلْمَدًا – عمر بن ابي ربيعة

“Jika Anda tidak pernah merasakan rindu dan tidak tahu apa itu mencintai, maka jadilah dirimu sebuah bongkahan batu yang keras”

Begitulah syair gubahan Umar bin Abi Rabi’ah yang dibacakan oleh KH. Dr. Hilmy Muhammad saat mengisi ceramah setelah pembacaan burdah. Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang harus memiliki rasa mencintai, minimal mencintai kedua orang tua, keluarga, guru-guru, ataupun teman.

Sebab dengan seseorang memiliki rasa cinta dalam hatinya, maka ia akan menjadikan cinta itu meresap ke dalam hidupnya laksana sebuah semangat yang senantiasa menyala demi menggapai hasil yang diharapkan.

Baca juga: Betapa Romantisnya Bani Udzrah

Irfan Fauzi

Irfan Fauzi

IrfanFauzi

15

Artikel