Hari Santri: Waktunya Santri Berprestasi

Hari Santri: Waktunya Santri Berprestasi

Almunawwir.com- “Jadi santri itu fadhol, bukan keinginan, tetapi Allah yang memberikan”, begitu sedikit kutipan dari Santripreneur penulis novel Hati Suhita yang akrab disapa Ning Khilma yang beberapa waktu lalu rawuh sebagai narasumber seminar di Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Q. Maka hal itu patut kita syukuri, sebab tidak semua orang diberikan kesempatan ber-title ‘santri’. Lalu bagaimana cara kita mensyukurinya ?

Mungkin pada benak mayoritas orang awam, rasa syukur itu berupa sesuatu yang berhubungan dengan hal ukhrowi. Mindset santri bagi sebagian orang juga pasti berhubungan dengan hal spiritual dan cenderung kurang peduli dengan urusan duniawi. Bahkan, tanpa disadari, kita sebagai santri juga terkadang terbawa mindset yang demikian sehingga branding santri menjadi begitu-begitu saja. Tidak ada yang istimewa. Jika hal ini terus dibiarkan, maka sangat sedikit kemungkinan kesempatan santri berpartisipasi pada hal duniawi. Karena hal itu, maka kita sebagai santri perlu membuat gebrakan, dimana akan membuktikan kiprah santri tidak hanya pada hal ukhrowi saja, namun juga dianggap sukses dengan hal duniawinya. Dengan kita mau membuat gebrakan baru, itu juga merupakan salah satu ungkapan rasa syukur kita sebagai santri. Hal ini sangat relevan dengan  jargon Hari Santri 2023 yang berbunyi “Jihad Santri Jayakan Negeri”. Jihad tidak harus berperang, tapi bagaimana bisa keluar dari zona nyaman untuk membuat gebrakan.

Sumber: ITS Online

Berbicara tentang gebrakan baru, hal ini berhubungan dengan hal yang berbeda dan bermanfaat tentunya. Salah satu gebrakan baru tersebut adalah dengan terus mengikuti arus millennial. Yang disini berarti arus yang serba digital. Mengutip kembali dawuh Ning Khilma, bahwa pada zaman sekarang ini, santri harus ikut berpartisipasi dan mempunyai kiprah di dunia digital. Harus menjadi santri yang berintelektual dalam era transformasi digital. Seperti yang dikatakan oleh Menteri Agama RI, Gus Yaqut Cholil Qoumas dalam acara rilis logo santri yaitu, “Jayakan Negeri dengan Jihad Intelektual di Era Transformasi Digital”

Baca Juga:

Peringatan HSN 2023, Pondok Almunawwir Gelar Upacara Bendera

Santri Berkarya di Tengah Arus Digital

Mengapa harus santri ? Karena justru santri yang nantinya bisa mengimbangi hal duniawi dan ukhrowi, pun itu di dalam era digitalisasi. Karena haqiqot santri adalah sebagai penyeimbang dan jembatan antara hal duniawi dan ukhrowi. Memberi gebrakan baru bukan berarti harus memberikan karya yang bagus dan besar. Seperti yang didawuhkan Ning Khilma, yaitu Klungsu Klungsu Waton Udu. Pesan tersebut memberikan arti bahwa kita sebagai santri, setidaknya harus menyumbang satu karya dalam dunia digital, pun itu sekecil apapun, daripada tidak sama sekali. Pesan tersebut menunjukkan bahwa menjadi santri yang mempunyai literasi digital itu sangat penting, menjadi bagian dari digitalisasi itu penting. Sebab kita semua memiliki potensi yang sama sebagai manusia.

Mengutip kembali dawuh Ning Khilma, bahwa kita sebagai santri mempunyai wadah. Wadah tersebut diartikan sebagai potensi dan kesempatan yang mana semua individu memiliki besaran yang sama. Tinggal bagaimana kita mau memenuhinya atau justru meninggalkan kosong begitu saja.

Disamping kita harus menyumbang karya, kita sebagai santri juga harus adaptif dengan konten digital yang sampai hari ini terus berkembang dan semakin kreatif. Menggunakan sosial media dengan bijak, menyaring informasi yang baik dan membuang buruknya. Buktikan kalau kita sebagai santri juga layak mendapatkan tempat dalam digitalisasi. Dengan berkiprah dalam dunia digital dan bisa beradaptasi dengan baik, santri sudah pantas mendapatkan branding berprestasi. Menjadi berprestasi tidak harus menjadi orang besar, berprestasi itu cukup menjadi diri sendiri dan bermanfaat bagi siapapun dan dimanapun. Artinya, kita tetap harus menjalani hidup sebagaimana seorang santri, namun juga harus melek dengan digitalisasi dan ikut berpartisipasi di dalamnya. Itulah hakikat bersyukur dan berprestasi yang sebenarnya sebagai santri.

Menulis Adalah Entitas Santri dalam Berkarya

Lalu bagaimana cara menyalurkan karya di samping akses sosial santri yang kadang terbatas ?

Jawabannya adalah dengan menulis. Atau dengan kata lain, jika kita sebagai santri merasa kurang dalam potensi bermedia, maka menulislah. Dunia tidak perlu tahu siapa kita, namun dunia harus tahu kalau kita pernah menyumbang karya. Terutama dalam dunia digital. Paling tidak kita pernah menjadi bagian di dalamnya. Sekecil apapun karya itu. Ide yang awalnya hanya tertanam di pikiran, saatnya kita tuangkan ke dalam suatu tulisan. Percayalah, satu karya sekecil apapun itu, tidak akan hilang jejaknya jika di digitalisasikan, disebarkan, dan akan memberi manfaat kepada siapapun. Nama kita akan menjadi salah satu sejarah karena pernah menjadi bagian di dalamnya. Seperti yang dikatakan oleh penulis hebat, Pramodya Ananta Toer, “Menulislah, maka kamu akan abadi”.

Sebagai santri yang melek teknologi, ayo, gaungkan Jihad santri yang berintelektual untuk berpartisipasi dalam era digitalisasi dalam rangka menyukseskan Hari Santri Nasional 2023.

Baca Juga:

Jelang Hari Santri 2023, Kemenag Harap Jadi Momen Glorifikasi Pesantren

Editor: Syarafina Az

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Santri Komplek Q

7

Artikel