Benarkah Permainan Capit Boneka Termasuk Aktivitas Perjudian? Berikut Penjelasannya

Benarkah Permainan Capit Boneka Termasuk Aktivitas Perjudian? Berikut Penjelasannya

Yogyakarta – Lajnah Bahtsul Masa’il

Belum lama ini, ramai di jagad medsos selepas diputuskan akan haramnya permainan claw machine atau capit boneka.

Hal serupa juga berlaku dalam kasus human claw yang mekanismenya hampir sama dengan permainan capit boneka. Ragam respon muncul menanggapi putusan tersebut, termasuk banyak juga yang menolaknya.

Mereka yang menolak memiliki argumen jika permainan claw machine atau capit boneka hanya permainan biasa, sedangkan ongkos yang diberikan kepada penyedia permainan sebagai kompensasi logis menikmati fasilitas permainan.

Singkatnya mereka mempertanyakan dimanakah unsur perjudian permainan capit boneka?

Sumber Gambar: m.rctiplus.com

Secara umum, jama diketahui bahwa perjudian merupakan sesuatu keharaman.

Keharaman judi telah dinyatakan secara jelas oleh Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Mā’idah ayat 90:

    يٰٓايُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ  

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung”.  

Baca juga: Buntut Tragedi Kanjuruhan; Tindakan Sujud Para Polisi, Bagaimana Duduk Perkaranya?

Syekh Ali as-Shabuni menerangkan haramnya perjudian serta pengertiannya sebagai berikut

: اتفق العلماء على تحريم ضروب القمار، وأنها من الميسر المحرّم لقوله تعالى: {قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ} فكل لعب يكون فيه ربح لفريق وخسارة لآخر هو من الميسر المحرم، سواءً كان اللعب بالنرد، أو الشطرنج أو غيرهما ويدخل فيه في زماننا مثل (اليانصيب)  

“Ulama sepakat atas keharaman macam-macam perjudian (qimar), karena termasuk maisir  yang diharamkan berdasarkan firman Allah: “katakanlah, pada keduanya terdapat dosa besar”.

“Maka setiap permainan yang terdapat keuntungan pada satu pihak dan kerugian pada pihak yang lain adalah perjudian yang diharamkan, baik permainannya mengunakan dadu, catur, atau selainnya, termasuk judi dimasa kini adalah lotere Yanashib”.

[Muhammad Ali As-Shabuni, Rawaiul Bayan Tafsir Ayat Ahkam, [Dimsyik, Maktabah Al-Ghazali: 1400 H], juz I  halaman 279].  

Lebih jelas lagi, Syekh Muhammad bin Salim bin Sa’id Ba Basil dalam kitab Is’adur Rafiq menjelaskan:   

 (وَكُلُّ مَا فِيْهِ الْقِمَارُ) وَصُوْرَتُهُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهَا أَنْ يُخْرِجَ الْعِوَضَ مِنَ الْجَانِبَيْنِ مَعَ تَكَافُئِهِمَا وَهُوَ الْمُرَادُ مِنْ الْمَيْسِرِ في الآية ووَجْهُ حُرْمَتِهِ إنْ كانَ كُلُّ وَاحِدٍ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أنْ يَغْلِبَ صَاحِبَهُ فَيَغْرَمُ أوْ يَغْلِبَهُ فَيُغْرَمُ  

“Segala perkara yang mengaandung perjudian, adapun bentuk perjudian yang telah disepakati  ulama’ adalah dimana masing-masing ke dua belah pihak mengeluarkan ‘iwad atau imbalan secara berimbang.

Inilah yang dimaksud maisir dalam ayat. Sudut pandang keharamannya adalah jika masing-masing bimbang antara jika salah satu menang maka pihak yang kalah harus membayar. Demikian juga sebaliknya.” (Muhammad Bin Salim bin Sa’id Ba Basil, Is’adur Rafiq, [Indonesia, Al-Haramain], juz II, halaman 102).

Baca juga: Malas atau Santai: Melipat Ulang Makna “Ngaret” di Pesantren

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa keharaman judi sudah menjadi kesepakatan ulama.

Poinnya adalah setiap permainan yang memenuhi unsur-unsur perjudian; masing-masing pihak mengeluarkan ‘iwad atau ganti;  satu pihak diuntungkan  dan kerugian pada pihak yang lain; dan adanya aspek yang sifatnya masih bspekulasi,  jika salah satu menang maka pihak yang kalah harus membayar, demikian juga sebaliknya.

Dalam konteks permainan capit boneka, jika penyewa mendapatkan boneka maka dia beruntung, sebaliknya penyedia fasilitas merugi. Adapun jika tidak mendapatkan boneka maka penyewa merugi, sebaliknya penyedia fasilitaslah yang beruntung.

Dengan kenyataan tersebut sudah jelas adanya spekulasi untung rugi yang termasuk judi dalam permainan ini. 

Kemungkinan mendapatkan boneka atau tidak dengan mendasarkan pada untung-untungan inilah yang menyebabkan permainan ini termasuk permainan spekulatif yang haram, persis seperti spekukasi dalam judi dengan dadu.

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwanit Toriq Wallahu A’lam bis Sowab.

______

Baca juga: KH. Ahmad Munawwir dalam Bingkai Semelo Jombang

Lajnah Bahtsul Masail Almunawwir

Lajnah Bahtsul Masail Almunawwir

Lajnah Bahtsul Masail Almunawwir

8

Artikel