Makna dan Signifikansi Kata ‘Iqra’ dalam Peristiwa Nuzulul Qur’an

Makna dan Signifikansi Kata ‘Iqra’ dalam Peristiwa Nuzulul Qur’an

Almunawwir.com – Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam, karena merujuk pada proses turunnya Al-Quran sebagai wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam melalui malaikat Jibril.

Hingga saat ini, Al-Qur’an merupakan kitab suci dalam agama Islam dan dijadikan sebagai pedoman bagi umat dalam menjalani kehidupan.

Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam kitab karangannya التبيان في علوم القرآن (At-Tibyan fi Ulumil Qur’an). Beliau menjelaskan bahwa pertama kali turunnya Al-Qur’an pada 17 Ramadhan saat umur Nabi mencapai 40 tahun.

Nuzulul Qur'an
Sumber Gambar: al-ain.com

Malaikat Jibril datang ketika Nabi sedang berkhalwat di gua Hira’. Jibril langsung memeluk Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam kemudian dilepaskan lagi, hal tersebut dilakukan sebanyak 3 kali.

Baca juga:

Pada setiap pelukannya Malaikat Jibril sambil berkata :”(bacalah)  اقرأ” lalu dijawab oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam “(aku tidak bisa membaca) ما انا بقارئ “.

Hal itu terulang sebanyak 3 kali, dan dikali ketiga malaikat jibril berkata :

 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5 ) { العلق ٥-١}

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan(1). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah(2). Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah(3). Yang mengajar manusia dengan pena(4). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya(5). (Al-‘Alaq 1-5)

Kata “iqra’ ” yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam saat peristiwa Nuzulul Qur’an memiliki makna yang sangat penting.

Dalam tata bahasa Arab, “iqra (bacalah)” merupakan Fi’il Amr / perintah yang berasal dari kata dasar قرأ – يقرأ – قراءة . Perintah ini bukan sekadar perintah untuk membaca secara fisik, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam.

Baca juga:

Terdapat sebuah pertanyaan pemantik dari KH. Hussein Muhammad atau kerap dipanggil Buya Hussein. Jika “Iqra” bermakna “bacalah”. Lalu apakah yang dibaca oleh Nabi saat itu?

Bukankah beliau tak bisa membaca dan menulis? Apakah Malaikat Jibril telah membawakan untuk beliau bahan bacaan ? Tetapi bukankah Muhammad tidak pernah belajar menulis dan membaca?

Lafadz اقْرَأْ merupakan wahyu pertama, dan turun tanpa disertai dengan sebuah Maf’ul Bih (objek). Maka jika mengikuti sebuah qoidah حذف الْمعْموْل يفيد العموم (Menghilangkan sasaran pembicaraan (objek) menfaedahkan keumumannya).

Di lafadz اقْرَأَ menyimpan perintah Allah kepada nabi untuk membaca yang bersifat secara umum atau luas, dapat berarti membaca alam semesta, membaca kehidupan, dan membaca apa saja.

Selaras dengan hal tersebut menurut Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Alquran; fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat”.

Beliau menyatakan bahwa arti asal kata “Iqra'” yang diterjemahkan sebagai “bacalah” tidak mengharuskan adanya teks tertulis yang dibaca atau diucapkan untuk didengar oleh orang lain. Oleh karena itu, terdapat beragam penjelasan mengenai arti kata tersebut dalam kamus bahasa.

Selanjutnya, diayat 1 surat Al-‘Alaq lafadz اقْرَأْ  memiliki sambungan بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. Dalam buku yang sama Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah membaca dalam konteks “Bismi Rabbika” (dengan nama Tuhanmu) merupakan syarat yang mengharuskan pembaca tidak hanya melakukan bacaan dengan ikhlas. Tetapi juga memilih bahan bacaan yang sesuai dengan nilai-nilai “nama Allah” yang dianut.

Kata perintah “اقْرَأْ “ dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi, tidak serta merta hanya diperuntukkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Melainkan juga kepada seluruh umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan.

Dalam sejarah Islam, peristiwa Nuzulul Qur’an, di mana wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, menjadi titik awal penting dalam perjalanan kenabian beliau dan penyebaran ajaran Islam.

Baca juga:

Meskipun Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tidak bisa membaca dan menulis secara konvensional, perintah “Iqra'” dari Malaikat Jibril bukanlah perintah untuk membaca teks tertulis.

Tetapi lebih kepada perintah untuk memahami dan menghayati ajaran Allah yang terkandung dalam Al-Quran. Peristiwa ini menegaskan pentingnya pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari bagi umat Islam.

Sedangkan untuk ranah yang lebih luas, “Iqra'” juga dapat diartikan sebagai perintah untuk selalu belajar dan meningkatkan pemahaman dalam segala aspek kehidupan. Termasuk pemahaman terhadap alam semesta, kehidupan sosial, dan sekitar kita. Al-Quran sebagai kitab suci dalam agama Islam memiliki nilai yang sangat luas dan mendalam.

Perintah “Iqra'” mengingatkan umat Muslim untuk senantiasa belajar, memperdalam pemahaman, dan mengamalkan ajaran Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari sebagai kunci untuk membuka jalan menuju kebahagiaan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Wallahu A’lam Bis-Showab

Baca juga:

Ahmada Wildan Afifi

Ahmada Wildan Afifi

AhmadaAfifi

18

Artikel