Membangun Keistimewaan: Peran Awal KHM Munawwir dalam Menata Kehidupan Sosial Keagamaan di Yogyakarta 1910-1942.

Membangun Keistimewaan: Peran Awal KHM Munawwir dalam Menata Kehidupan Sosial Keagamaan di Yogyakarta 1910-1942.

Oleh: Ahmad Athoillah (Staf Pengajar Sejarah Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada)

Kota Yogyakarta dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755 dengan mewariskan peradaban yang adiluhung. Toponimi Kota Yogyakarta dibangun dan dirancang dengan landasan filosofi yang tinggi.

Titik-titik filosofis yang dimaksud membentang dari arah selatan (Panggung Krapyak) ke utara (tugu golong-gilig) dengan Keraton yang berada di tengah sebagai pusatnya. Tiga titik —Panggung Krapyak, Keraton, dan Tugu Golong-Gilig— tersebut dikenal sebagai sumbu filosofi Yogyakarta.

Saat ini (2023), Panggung Krapyak secara kolektif oleh masyarakat Yogyakarta dimaknai sebagai awal dari titik sumbu filosofis yang melambangkan proses kelahiran manusia (sangkaning dumadi) yang tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang penuh keutamaan (insan kamil).

Baca juga: Pesantren, Kitab Kuning dan Solusi Zaman Baru

Rangkaian sumbu filosofis tersebut, secara rinci menggambarkan keselarasan dan keseimbangan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Tulisan ini menyajikan bagaimana lingkungan sosiologis Panggung Krapyak dibangun peradabannya oleh ulama besar Jawa yaitu KHM Munawwir pada awal abad ke-20 menjadi masyarakat yang agamis —sesuai dengan nilai dan makna sumbu filosofis Yogyakarta yang Istimewa.

Krapyak sebelum Kedatangan Kiai Munawwir.

Wilayah Krapyak menjadi penting di Yogyakarta sejak dibangunnya pesanggrahan dan pusat perburuan yang disebut Panggung Krapyak (kandang menjangan).

Sultan Hamengkubuwono I membangun pesanggrahan tersebut pada tahun 1872 (Trihartono 2008). Sampai tahun 1850, kawasan ini masih berupa hutan yang sebagian digunakan untuk kuburan sinden dan opsir Belanda (Putri 2010).

Kawasan lahan di Krapyak tersebut kemudian dibeli oleh seorang pangreh praja bernama Muhammad Syihab untuk pembangunan makam keluarga.

Selain itu, terdapat lingkungan di sekitar bekas pagar benteng pesanggrahan yang diizinkan oleh pihak Kasultanan untuk didirikan pemukiman.

Pendirinya adalah Demang Redjadarsana yang dibantu oleh Bekel Japanggung dan Bekel Jakrapyak. Pemukiman tersebut kemudian dikenal sebagai ‘Kademangan’ atau ‘Pademangan’ (Putri, 2010).

Baca juga: Beberapa Adab Uluk Salam yang Sering Kita Lupakan

Seiring dengan berkembangnya pabrik gula di selatan Yogyakarta, terutama pada tahun 1860 seperti PG Padokan, PG Gondang Lipura (Ganjuran), PG Gesikan, PG Jebugan, PG Barongan, PG Pundong, dan PG Kedhaton Pleret maka pemukiman tersebut terus tumbuh, meskipun jumlah penduduknya masih sangat sedikit.

Beberapa pendatang terus berdatangan, salah satunya adalah KHM Munawwir yang pulang dari Makah pada tahun 1909.

KHM. Munawwir: Ulama Qur’an Tanah Jawa

Kiai Munawwir adalah putra dari KH Abdulah Rosyad yang lahir pada sekitar tahun 1870 di Kauman Yogyakarta (Fadlly, 2012). Beliau adalah cucu dari kurir Pangeran Diponegoro bernama Kasan Basori dan keluarga dari abdi dalem kapangulon Keraton Yogyakarta.

Sejak muda, Kiai Munawwir belajar agama dengan KH Abdullah (Kanggotan, Bantul), Kiai Saleh Darat (Semarang), KH. Abdurahman (Watucongol, Muntilan), dan KH Kholil (Bangkalan) (As’ad 1975).

KHM Munawwir
Panggung Krapyak Tahun 1970 (Koleksi BPAD DIY)

KHM Munawwir berangkat ke Makah pada tahun 1888 untuk mendalami ilmu agama Islam, terutama Al-Qur’an.

Beberapa gurunya adalah Syaikh Abdullah Sanqara, Syaikh Sarbini, Syaikh Mukri, Syaikh Ibrahim al-Huzaimi, Syaikh Mansyur, Syaikh Abdusyakur, dan Syaikh Musthafa. KHM Munawwir disebutkan belajar agama di Makah selama 21 tahun (As’ad 1975).

KHM Muhammad Munawwir merupakan bagian dari para jejaring intelektual Islam di Asia Tenggara yang terhubung dengan para ulama di Makah.

KHM Munawwir juga dikenal oleh banyak para ulama Jawa, salah satunya adalah KH Said (Gedongan, Cirebon) yang pada tahun 1910 mengantarkan perannya ke Krapyak. Keahliannya dalam bidang Ilmu al-Qur’an membuat sosoknya langka dan sangat dihormati di Jawa.

KHM Munawwir juga dikenal dan menjadi bagian dari beberapa ulama Al-Quran alumni Makah lainnya seperti: KH. Munawar di Gresik (1884-1944); KH Said Ismail di Sampang, Madura (1891-1954); dan AG KHM As’ad Abd Rasyid di Wajo (w.1952) (Fathoni, 2018). Semua adalah para ulama Al-Quran di Asia Tenggara yang sanadnya terhubung dengan guru KHM Munawwir di Makah.

Membangun ‘Peradaban Qur’an’ di Krapyak

As’ad (1975) menyebutkan bahwa KHM Munawwir telah tinggal di Krapyak pada tahun 1910. Pada dekade pertama abad ke-20 itu, masyarakat di Krapyak masih menjalankan praktik penyakit masyarakat.

Umumnya sebagian besar masyarakat masih suka meminum arak, berjudi, dan melakukan aksi kejahatan seperti pencurian dan perzinahan.

KHM Munawwir
Peta Krapyak Tahun 1920 (Koleksi KIT 05120-228 Universitas Leiden)

Selain praktik di atas, banyak masyarakat Krapyak yang masih mengamalkan ajaran Islam Kejawen. Hal itu dikarenakan terdapat pendatang di Krapyak yang menjadi tokoh Kejawen yaitu Raden Kaki Mangunwijaya.

Namun begitu, Kiai Munawwir tidak pernah memusuhi kalangan Kejawen dan justru menghormati. KHM Muhammad Munawwir dengan sabar mengenalkan ajaran Islam ke masyarakat di sekitar Panggung Krapyak tersebut.  

Sikap asah, asih, dan asuh KHM Munawwir sebagai ulama dan tokoh masyarakat tersebut berbuah pada kecintaan masyarakat Krapyak kepada beliau. KHM Munawwir kemudian tampil sebagai tokoh yang paling berwibawa, baik di Krapyak maupun di Yogyakarta.

Hal itu terbukti ketika masyarakat dan Lurah Krapyak bernama Abdurahman Madyapawira mendukung langkah KHM Munawwir membuka Pesantren Krapyak dengan nama Ribathul Qur’an pada 15 November 1911.

Baca juga: Gus Baha: Pentingnya Mengaji dan Barokah Orang yang Tidur

Setelah itu, banyak para santri yang berdatangan dari luar wilayah Yogyakarta untuk belajar agama di seputaran Panggung Krapyak. Hal tersebut menjadikan Krapyak terkenal di seluruh Pulau Jawa dan Madura.

Jumlah santrinya sampai tahun 1920-an antara 6-10 orang dan berkembang mencapai sekitar 100 orang sampai tahun 1923 (Fathurohman 2011; As’ad, 1975).

Sampai tahun 1930-an, Putri (2010) menyebut jika penduduk Krapyak masih berjumlah 30-an orang. Hampir semuanya adalah para pedatang.

Di tengah-tengah masyarakat yang baru dan umumnya adalah para pekerja pabrik tersebut Kiai Munawwir secara telaten berjuang mengenalkan Islam melalui kecintaan kepada Al-Qur’an.

Gambar Masjid Krapyak sesudah kemerdekaan (Sumber: As’ad, 1975)

KHM Munawwir melanjutkan pembangunan Masjid Krapyak yang telah dirintis oleh KH Abdul Jalil.

Pada saat keadaan ekonomi memburuk akibat krisis malaise yang menyebabkan beberapa pabrik gula di sekitar selatan Yogyakarta bangkrut (Prasetyo, 2014), KHM Munawwir justru berhasil menyelesaikan pembangunan masjid Krapyak dengan dana Rp 800-.

Bukan itu saja, KHM Munawwir juga berhasil merampungkan pembangunan asrama pesantrennya yang dikerjakan oleh santrinya bernama Abdul Kafi dari Grabag.

Pembangunan bangunan pondok —yang kemudian menjadi komplek A— juga dikerjakan oleh santri KHM Munawir bernama Kiai Arwani Amin dari Kudus (Fathurohman 2011, As’ad 1975).

KHM Munawwir dan Warisan Peradaban Islami di Panggung Krapyak

Pada 11 Jumadil Akhir 1360 H/6 Juli 1942 KHM Munawwir wafat setelah sakit selama 16 hari. Jenazahnya diantarkan KH Mansur (popongan, Klaten), KHR Asnawi (Kudus), dan KH Maksum (Lasem) untuk dimakamkan di Pemakaman Dongkelan, Bantul.

Beliau meninggalkan sebuah warisan peradaban penting di Panggung Krapyak, yaitu tradisi ilmu Al-Qur’an yang masih lestari disiarkan dari utara Panggung Krapyak.

Para putra dan santri KHM Munawwir juga terus menyebarkan tradisi pengajaran ilmu Al-Quran tersebut di seluruh Jawa, bahkan hampir di seluruh kawasan luas Asia Tenggara.

Pasca-kemerdekaan, dua muridnya yang terpenting yaitu KH Muntaha (Wonosobo) dan KH Arwami Amin (Kudus) dapat disebut menjadi generator induk pembelajaran Al-Quran di Indonesia.

Baca juga: Belajar Berkarya dari Sang Pionir Kamus (Mengenang 4 Tahun KH. A. Warson Munawwir)

Selain itu, melalui putera dan menantunya yaitu KHR Abdullah Affandi, KHR Abdul Qadir, dan KH Ali Maksum maka Pesantren Krapyang yang berada dekat di utara Panggung Krapyak juga tumbuh menjadi pusat pendidikan awal spiritual bagi kehidupan sosial keagamaan baik di Yogyakarta maupun di Indonesia. 

Dari Panggung Krapyak sampai saat ini (2023) masih terus selalu dipompakan tentang cara hidup berdasarkan Al-Quran, yang berlandaskan pada asas keselarasan dan keseimbangan, baik yang berhubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam.

Panggung Krapyak dengan perjalanan sejarah sosialnya sepanjang awal abad ke-20 juga telah menjadi bagian penting dalam sejarah pembangunan keistimewaan Yogyakarta. Utamanya, adalah peran dakwah al-Quran yang telah dirintis oleh peran perjuangan dakwah KHM Munawwir sepanjang tahun 1910-1942.

Referensi

Ali As’ad, KHM Moenauwir: Pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Yogyakarta: Pondok Krapyak, 1975.

Ahmad Fathoni, “Sejarah & Perkembangan Pengajaran Tahfidz al-Quran di Indonesia” diupload pada 18 Februari 2018 dalam http://www.baq.or.id/2018/02/sejarah-perkembangan-pengajaran-tahfidz.html.

Gustipani Hedyana Putri, “Bulan Sabit dan Keris: Perubahan Sosial Kampung Krapyak, 1910-1989”, Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, 2010.

Haris Fadly, “Biografi KH M Munawwir (1870-1941)” diupload pada 03 Feberuari 2012 dalam https://lajnah.kemenag.go.id/artikel/biografi-kh-m-munawwir-1870-1941

Himawan Prasetyo, 26 Juni 2014, http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/tanjung-tirto-dalam-lintasan-sejarah/

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/sumbu-filosofi-yogyakarta/.

https://images.app.goo.gl/WuAvasnYi1VhRtCTA

Mas’udi Fathurrohman, M, Romo Kyai Qodir: Pendiri Madrosatul Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana, 2011.

Baca juga: Pesan Mbah Maksum Lasem untuk Santri Krapyak

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel