
Almunawwir.com-Tulisan ini saya persembahkan kepada teman-teman saya yang sampai saat ini masih terus mengeluh dan sambat butuh someone to talk. Padahal, gelaran sajadah akan selalu bersedia mendengar curhatan kalian. Allah akan selalu ada. Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana agar kita bisa ngobrol dengan Gusti Allah?.
Manusia adalah Makhluk Istimewa
Manusia diciptakan dengan segala kebaikan, keistimewaan, dan keunikannya. Dengan segala detail yang disiapkan untuk membersamai perjalanannya. Uniknya, atas keunikan tersebut, Allah membekali kita dengan satu hal maha dahsyat yang bahkan manusia yang tidak iman sekalipun memilikinya. Yang membedakan adalah hidup atau tidaknya keistimewaan yang Allah berikan. Yang membedakan adalah disyukuri atau tidaknya keistimewaan yang Allah SWT berikan.
Jantung mengandung Kalbu
Sesuatu itu biasa kita sebut sebagai “Jantung”. Sebuah pilar kehidupan individu. Ini tidak karangan atau sekedar ngomong tidak ada dasarnya. Saya yakin kalian pasti sedikit tercengang ketika membicarakan jantung yang ternyata adalah sesuatu yang maha dahsyat.
Hal ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh gabungan scientist dengan ulama masyhur beberapa belas tahun yang lalu dan baru diungkapkan baru-baru ini. Penelitian ini menyatakan bahwa manusia dibekali jantung tidak hanya untuk menjalankan kehidupan di dalam tubuh, bahkan uniknya, juga mengandung suatu titik penghubung dengan Allah yang disebut sebagai “kalbu”.
Menurut Al Ghazali, kalbu atau dalam bahasa arab disebut qalb dilihat dari dua sudut pandang pengertian. Yang pertama adalah secara fisik yang diartikan sebagai segumpal daging sumber kehidupan manusia yang letaknya ada pada dada sebelah kiri. Sedangkan arti kalbu dalam bahasa tersirat adalah sesuatu yang Lathiif yang terikat dengan jasmani manusia namun tak terlihat wujudnya. Hanya bisa dirasakan oleh akal dan hati. Diikat oleh ayat Al Quran dan Sunnahnya yang nantinya mengantarkan manusia kepada langkah menuju Rabb-nya.
Cara ‘ngobrol’ dengan Gusti Allah
Maka jawaban dari pertanyaan ‘bagaimana cara mengobrol dengan Gusti Allah?’ adalah hasil riset yang menyatakan bahwa manusia dilimpahkan keunikan dan keistimewaan berupa titik kalbu tersebut untuk dapat berbicara kepada Tuhannya. Maha Besar Allah SWT dengan Kun Fayakun- Nya menciptakan manusia yang dibekali cara untuk ‘ngobrol’ dengan Gusti Allah dengan tanpa perlu biaya dan tenaga. Alatnya hanyalah iman.
Untuk dapat mencapai titik intim dengan Gusti Allah jalannya adalah menambah kokoh tingkat keimanan. Yang tidak lain caranya adalah dengan ibadah. Hal ini bukanlah hal yang harus dibahas kembali. Setiap dari kita pasti memahami bagaimana konsep ibadah bisa memengaruhi iman, bukan? Semua manusia pasti dibekali jantung dengan bilik kanannya, namun tidak semua manusia paham akan cara ‘ngobrol’ dengan Allah melalui jantungnya sendiri. Unik bukan? Istimewa bukan ?
Ibadah Sebab Ati Bungah
Jika saya boleh mengibaratkan kenikmatan ibadah dalam bahasa jawa adalah ‘nek ora ngibadah, atine ra bungah’. Sering sekali saya mendengar teman-teman saya berbicara demikian, bahkan saya sendiri juga mengalami. maka sebenarnya, keadaaan tersebut adalah cara tubuh me-notice manusia lewat rasa untuk segera mengingat Tuhannya dengan ber amar ma’ruf-nahi munkar.
Maka, kesalahan, kema’shiyatan, larangan, dan apapun perilaku manusia yang berpotensi mengotori iman, titik kalbu akan memberikan sinyal dan reaksi atas ketidaklurusan yang dilakukan tubuh. Sinyal untuk kemudian merasa resah dan gelisah yang datang sebagai urgensi salah arah tersebut. Yang kemudian dapat bereaksi kepada fisik serta batin manusia. Mungkin teman-teman bertanya-tanya bagaimana kema’shiyatan dapat bereaksi kepada fisik?. Alurnya demikian.
Baca Juga: Ning Imaz: Memaknai Diri Sebagai Perempuan Yang Berbahagia
Sebuah kema’shiyatan atau dosa pasti dilakukan atas dorongan otak seseorang yang tidak mungkin dilakukan tanpa melibatkan organ dan indra manusia. Maka ketika organ dan indra melakukannya, jantung, sebagai pusat kehidupan tubuh manusia, yang mengandung kalbu, akan bereaksi atas sesuatu yang tidak sesuai arahan Tuhan-Nya, yang kemudian mengirim keanehan tersebut kepada otak dan mengubahnya menjadi sinyal resah.
Lalu bagaimana dengan manusia yang tidak dibekali iman?. Jawabannya adalah mati. Tidak dengan tubuhnya, namun titik kalbu yang dimilikinya tidak berfungsi. Ada tapi tak berguna. It’s just like an organ that carries out its function as it should. Just it. No other. Na’udzubillah.
Allah adalah Tempat Mengadu
Maka tidak ada alasan yang dapat diterima untuk kita sebagai muslim yang diberi kenikmatan iman dan ibadah untuk tidak tahu lagi kepada siapa kita bisa mengeluh. Dengan siapa lagi kita mengadu. Kepada siapa lagi kita meminta. Selain kepada Allah SWT. Allah SWT telah menetapkan ke-Maha Besar-an Nya untuk semua hamba-Nya. Selanjutnya kita, hanya bisa bersujud dan bertawakkal kepada-Nya. Maha Besar Allah yang menciptakan seseuatu melebihi kekuatan akal manusia. Wallahu A’lam.
penulis dan editor: Manazila Ruhma



![[Kebenaran Hadis Diragukan?] Memahami Akar Problematika Otoritas Hadis](https://cdn.almunawwir.com/2023/12/hadis.jpg.webp)