Meninjau Ulang Peran Perempuan dalam Ayat-Ayat Misoginis

Meninjau Ulang Peran Perempuan dalam Ayat-Ayat Misoginis

Almunawwir.com-Kajian ini dilatarbelakangi dari adanya kecenderungan masyarakat Muslim yang masih mengakar dalam persoalan ketimpangan gender. Hal tersebut terjadi baik dari aspek pemikiran dan pemahaman atau aspek praktik sosial keagmaan.

Aktivis gerakan feminisme islam di Indonesia membawa isu ketimpangan gender ke dalam dua sisi yang berbeda, yaitu sisi eksternal yang berawal dari adanya keberpihakan realitas sosial politik pada pelestarian budaya patriarki sedangkan sisi internal berasal dari masyarakat Muslim sendiri yang masih belum terlepas dengan bias gender dalam memahami doktrinal normatif islam yang terkait dengan isu-isu feminisme.

Perbincangan Gender setidaknya pernah dibahas dalam bukunya Husein Muhammad Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender (2002: 3) bahwa dalam budaya patriarki peran laki-laki telah mendapatkan pembenaran untuk dapat melakukan apa saja. Namun di satu sisi, peran perempuan juga mengalami pembenaran untuk tetap berada dalam posisi subordinat.

Baca Juga:

Maka implikasinya adalah laki-laki semakin mendominasi sementara otonomi perempuan semakin berkurang hingga mengalami proses marginalisasi, eksploitasi, dan kekerasan baik di ruang publik maupun di ruang domestik. 

Oleh sebab itu, dalam tradisi islam kelompok feminis Muslim mulai bergerak untuk meningkatkan status Perempuan dengan menggunakan metode pencarian pembenaran dalam islam itu sendiri, baik dalam melakukan reinterpretasi ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan soal hubungan laki-laki Perempuan mulai dari segi alam biologis, peran, tugas atau model-model yang ada dalam tradisi islam awal.

Seperti yang dilakukan oleh Riffat Hasan, Amina Wadud yang keduanya hadir dalam menganalisa Al-Qur’an untuk upaya menjawab penafsiran-penafsrian “Misogynis” abad pertangahan islam.

Sejarah awal peradaban islam telah memaparkan fakta bahwa islam justru mendorong dan mengangkat kemuliaan perempuan yang belum pernah diberikan oleh suku bangsa manapun atau peradaban tua sebelum islam. Akan tetapi sayangnya kini islam menjadi salah satu agama yang paling banyak sorotan dalam kaitannya terhadap status dan aturan yang dihasilkan oleh ajaran dari ayat agama terhadap perempuan.

Hegemoni islam dalam perempuan terlihat jelas pada praktik keseharian di panggung kehidupan, yaitu di saat kaum perempuan mendapat kesulitan dalam bergaul, terbatasnya ruang kebebasan dalam mengekspresikan individunya, terkungkung oleh aturan yang rigid, bahkan hak suaranya pun acapkali tidak mendapatkan tempat oleh masyarakat luas.

Padahal Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk samawi sendiri secara kompherensif memaparkan hak asasi perempuan dan laki-laki yang sama, yaitu mulai dari hak beribadah, keyakinan, pendidikan, potensi spiritual, hak sebagai manusia bahkan hampir seluruh sektor kehidupan.

Perempuan mendapatkan porsi dari ruang yang telah diberikan sebagai bentuk keadilan sosial yang setara, sedangkan laki-laki juga bergerak dalam ruangannya dengan memiliki peran dan tugasnya. Sehingga Al-Qur’an sejatinya telah menggambarkan begitu jelas bagaimana perempuan dan laki-laki menjalani kehidupan dalam satu ruang yang sama. Akan tetapi masih ada saja kesalahpahaman dalam memaknai signifikansi ayat-ayat perempuan yang tersurat dalam ajaran normatif islam.

Penciptaan Perempuan dalam Islam

Muncul banyak penafsiran mengenai soal permulaan penciptaan perempuan kala itu, sehingga beberapa pertanyaan hadir menghiasi persoalan ini: Apakah dia diciptakan dari tanah seperti Adam atau justru dari bagian tubuh Adam. Dalam surat An-Nisa setidaknya dijelaskan pada ayat pertama:

يا أيهاالناس اتقوا ربكم الذى خلقكم من نفس وحدة

Wahai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kata “al-Nafs al-Wahidah”. Menurut Ibn Katsir kata tersebut merujuk pada pemaknaan “Adam” yang menggambarkan bahwa Hawa sebagai perempuan pertama berasal dari laki-laki yaitu Adam, sehingga memberikan kesan bahwa asal perempuan adalah laki-laki.

Menurut mufassir kontemporer, Muhammad Abduh “al-Nafs al-Wahidah” memiliki dua makna pertama yaitu “Adam’ kedua “jenis” namun pada akhirnya Abduh cenderung pada makna kedua, yang menekankan bahwa unsur penciptaan laki-laki dan perempuan, merupakan bersumber dari jenis yang sama, yang akhirnya Abduh menyatakan bahwa Adam dan Hawa diciptakan dari jenis tanah.

Perempuan di tengah Gelanggang Masyarakat

Diskusi mengenai hukum perempuan dalam memimpin sebuah komunitas masyarakat masih belum tuntas untuk dibahas. Terdapat pro dan kontra dalam persetujuan kebijakan tersebut. Sebab dalam At-Taubah ayat 71:

والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض يأمرون بالمعروق وينهون عن المنكر

“Dan orang beriman lelaki dan perempuan sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang makruf dan mencegah yang munkar.

Hal ini juga dipertegas kembali seperti yang disampaikan dalam surat al-Nisa’ ayat 34:

الرجال قوموان على النساء بما فضل االله بعضهم على بعض وبماأنفقوا من أموالهم

“Kaum lelaki adalah pemimpin atas perempuan oleh karena Allah telah melebihkan kaum lelaki di atas perempuan dan juga karena lelaki itu telah membelanjakan sebahagiaan harta mereka”

Ibnu Katsir menyatakan bahwa kata ( قومون) bermaksud bahwa lelaki harus menjadi pemimpin perempuan. Sedangkan dalam sisi lain, Yusuf al-Qardawi lebih memfokuskan penafsirannya sebagai pengemban amanah dan tanggung jawab sehingga bukan penguasa mutlak yang diskriminatif.

Sehingga apabila perempuan mampu mengemban amanah, tanggung jawab dan pelindung terhadap yang lain maka ia bisa mengapatkan posisi tersebut sebagai pemimpin masyarakat.

Berikut merupakan beberapa tokoh perempuan islam yang menjadi awal sebuah peradaban perempuan islam pertama.

  1. Khadijah binti Khuwailid, seorang konglomerat perempuan yang mampu mengembangkan usahanya ke level mancanegara.
  2. Ummu Sulaiman, menjadi penasihat ekonomi Khalifah Umar bin Khattab dan ditugasi sebagai menteri perdagangan
  3. Laila Katun, Jenderal perempuan Islam pertama yang berperang melawan tentera salib dari Eropa.

Sebab pada dasarnya bukan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa adanya kegagalan dalam memahami tentang perempuan di dalam Islam yang tidak bisa membedakan antara tradisi dengan wahyu.

Dengan demikian, pengisolasian perempuan dalam masyarakat dan kehidupan yang terjadi adalah hasil dari kekeliruan interpretasi pada teks agama. Ajaran Islam sesungguhnya mendudukkan hubungan antara lelaki dan perempuan pada posisi yang saling melengkapi dan memberikan hak asasi di setiap kebutuhan hidupnya.

Baca Juga:

Penulis: Muwadhofatul Akmal

Editor: Redaksi

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel