Tren Identitas dan Gaya Hidup “Menjadi Muslim” di Indonesia

Tren Identitas dan Gaya Hidup “Menjadi Muslim” di Indonesia

Almunawwir.com-Kecenderungan untuk menyesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam menimbulkan ancaman terhadap eksistensi sekularisme. Seperti yang terlihat dalam tindakan Sharp, pabrikan elektronik asal Jepang yang mengklaim bahwa produk lemari esnya mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal ini menunjukkan perkembangan terbaru dalam tren komodifikasi agama di Indonesia.

Dari bahasa hingga fashion, masyarakat Muslim berusaha untuk terlihat sebagai Muslim dengan jelas dan muncul anggapan bahwa orang-orang yang menolak mengikuti tren fashion dianggap tidak setia pada agama mereka.

Inti dari transformasi sosial ini adalah konsep  hijrah, sebuah istilah dari tahun-tahun awal Islam ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya bermigrasi untuk menghindari konflik dan penganiayaan.

Lailatul Fitriyah, seorang calon doktor teologi di Universitas Notre Dame, baru-baru ini menyatakan kepada majalah online feminis Magdalene, bahwa penafsiran hijrah yang sedang berlangsung saat ini berpotensi sangat merusak.

Dia menyatakan bahwa salah satu penafsiran historis tentang konsep tersebut adalah bahwa umat Muslim seharusnya berhijrah dari wilayah yang diperintah oleh sesama Muslim (Darul Islam) dan tidak menerima tinggal di bawah pemerintahan non-Muslim. Ini adalah salah satu keyakinan dasar gerakan Negara Islam, atau Daesh.

Beberapa orang Indonesia percaya bahwa mereka harus menciptakan ruang-ruang mereka sendiri di dalam negeri, yang diperintah oleh pemerintahan sekuler.

 “Ini menjadi proses segregasi sosial. Ini bukan proses memperluas alam semesta kita dan bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda, tetapi ini membatasi kehidupan kita.” Ungkap Fitriyah.

Meskipun orang mengklaim ini sebagai urusan agama, sebenarnya lebih merupakan masalah gaya hidup. Gerakan ini memaksa orang untuk membeli dan mengonsumsi barang-barang tertentu, bahkan kulkas halal.

Fitriyah (2017) juga berpendapat bahwa gerakan hijrah cenderung mengabaikan pengembangan spiritual dan menjanjikan “kesempurnaan instan” bagi mereka yang mementingkan simbol gaya hidup islam. Gerakan ini paling kuat di kalangan kelas menengah perkotaan berpendidikan, di mana ikatan komunitas tradisional paling lemah.

Di dalam masyarakat Indonesia yang beragam, gerakan seperti ini berpotensi sangat memecah belah dan dapat mengarah pada radikalisme.

Baca juga:

Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Manusia Mulia

Tren ini juga berbahaya bagi mereka yang mengikutinya, kata Achmad Munjid (2018), seorang dosen di Departemen Studi Antarkultural di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, dalam sebuah artikel opini di The Jakarta Post.

Dia menunjukkan adanya keinginan dari masyarakat untuk mengadopsi simbol-simbol Islam untuk mendukung rasa percaya diri mereka. Namun, ketika permintaan akan “kebutuhan agama” melebihi pasokan, “hakikat dan kualitas praktik keagamaan menjadi nomor dua.”

Kehausan akan simbol-simbol agama ini akhirnya mengundang aktor-aktor baru, banyak di antaranya yang tidak memiliki ilmu yang memadai, bahkan beberapa dengan motif gelap.

“Telah membantu menciptakan pasar gelap Islam, ruang bebas untuk religiositas semu, penceramah palsu Muslim, bisnis Islam palsu, dan penipuan agama, serta penipuan pengajaran, termasuk radikalisme dan terorisme.” Ungkapnya.

Penyalahgunaan Tren Simbolisme Islam

Di antara penyalahgunaan yang telah dilakukan adalah sejumlah kasus di mana penipu berdagang dengan tingginya permintaan untuk ibadah haji singkat (umrah) ke tanah suci Islam.

Perusahaan yang menawarkan ibadah haji dengan harga murah tetapi tidak pernah menyediakan layanan tersebut, telah menipu ribuan orang dan menggelapkan jutaan dolar. Pada saat yang sama, kata Munjid, ada ketimpangan yang mengkhawatirkan antara keinginan masyarakat untuk simbolisme Islam dan tingkat tinggi penyelewengan dalam masyarakat.

Fitriyah mengatakan ada cara yang lebih baik untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik, yaitu dengan hijrah kemanusiaan.

 “Tidak perlu adanya rasa bahwa Islam adalah agama yang tertekan di Indonesia. Keluar dan temui orang-orang yang berbeda. Itu adalah proses penanganan masalah internal kita. Sebenarnya lebih sulit daripada keluar dan membeli kulkas halal.” Ungkap Fitriyah

Gerakan hijrah berada di tengah-tengah perubahan budaya yang sangat mendalam di Indonesia. Sejak keputusan mantan presiden, Suharto, untuk menjadi lebih terang-terangan menjadi Muslim pada awal 1990-an, telah terjadi pergeseran yang mencolok menuju keseragaman dan konservatisme Islam (Dang, 2005).

Sampai taraf tertentu, pencarian identitas di Indonesia modern mungkin mencerminkan ketidakpuasan terhadap demokrasi dan pencapaian apa yang telah dicapainya dalam 20 tahun sejak Suharto lengser.

Untuk menghadapi tantangan ini, penting untuk mendorong pendekatan yang inklusif, dialog antar kelompok masyarakat, dan peran media dalam mempromosikan narasi yang berimbang, mendorong diskusi terbuka, dan memberikan informasi yang akurat tentang agama, sekularisme, dan keberagaman.

Dalam jangka panjang, pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk membangun masyarakat yang inklusif dan berlandaskan pada nilai-nilai universal, tanpa mengabaikan identitas agama individu. Dengan cara ini, Indonesia dapat mengatasi potensi ancaman terhadap eksistensi sekularisme dan menjaga keberagaman sebagai kekayaan budaya yang kuat dan menyatu.

Penulis: Ahmad Kamal Assidiqi (Santri Komplek Madrasah Huffadh 1)

Editor: Nur Hanik

Redaksi

Redaksi

admin

522

Artikel