Biografi KH. R. M. Najib Abdul Qodir: Ahlul-Qur’an yang Tawadhu’

Biografi KH. R. M. Najib Abdul Qodir: Ahlul-Qur’an yang Tawadhu’

Ada ḥāmilul-qur`ān yang tidak pernah menatap langit, selalu menunduk, KH. R. M. Najib dari Pondok Pesantren Krapyak.[1]

Seperti itulah yang dikatakan KH. Ahmad Musthofa Bisri ketika menggambarkan sosok KH. R. M. Najib Abdul Qodir.

Ulama Ahlul-Qur’an yang juga merupakan cucu KH. Muhammad Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

KH. R. M. Najib Abdul Qodir
Almaghfurlah KH. R. M. Najib Abdul Qodir
Sumber: Almunawwir

KH. R. Muhammad Najib merupakan salah satu ulama pemegang sanad qirā`ah sab’ah (ilmu tentang tata cara membaca Al-Qur’an menurut tujuh imam qirā`āt) di Indonesia.

Kealimannya dalam bidang Al-Qur’an sangat masyhur dan tidak diragukan lagi. KH. Habib Syakur, pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, mengatakan:

Bahwa kalau “khuluquhul-Qur`ān” bukan sebutan yang dikatakan oleh Sayyidah Aisyah untuk menggambarkan akhlak Rasulullah, maka beliau ingin menggunakannya untuk menyifati KH. R. Muhammad Najib, “kāna khuluquhu, kiai Najib, al-Qur`ān”.[2]

Baca juga: Haul ke-1: Berkah Ta’dimul Qur’an dan Kualitas Hidup Kiai Najib

Katib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Said Asrori, juga mengatakan bahwa KH. R. Muhammad Najib merupakan sosok kiai yang luar biasa, seorang ḥāmilul-qur`ān yang menyangga atau membawa Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, “lisānuhu-l-qur`ān, ‘insyā`allāh wa-qalbuhu-l-qur`ān (lisannya K.H. R. Muhammad Najib itu Al-Qur’an dan insyaallah hatinya juga Al-Qur’an)”.[3]

Selayang Pandang Kehidupan K.H. R. M. Najib Abdul Qodir

Kelahiran

KH. R. Muhammad Najib lahir pada hari Selasa Pon, 1 Ramadhan 1373 H, bertepatan dengan tanggal 04 Mei 1954 M, di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.[4] Beliau merupakan putra kelima dari pasangan KH. R. Abdul Qodir dengan Nyai Hj. Salimah Nawawi.[5]

Dari jalur ayah, nasab KH. R. Muhammad Najib bersambung kepada KH. Hasan Bashori, seorang ulama dari Yogyakarta yang juga merupakan ajudan Pangeran Diponegoro.[6]

Baca juga: Menelisik Maziyah Khidmah Al-Quran Almaghfurlah Romo Kiai Najib

Sedangkan dari jalur ibu, nasab beliau bersambung kepada KH. Nawawi Jejeran, seorang ulama pemegang mata rantai sanad tarekat Syaṭṭāriyah di Yogyakarta.[7]

KH. R. Muhammad Najib ditinggal wafat oleh ayahnya ketika masih berumur enam tahun.[8] Sepeninggal ayahnya, KH. R. Muhammad Najib diasuh oleh ibu (Nyai Hj. Salimah Nawawi) dan kakak beliau (Nyai Hj. Umi Salamah).[9]

Pendidikan

Romo Kiai Najib (demikian para santri memanggil KH. R. Muhammad Najib) dididik dengan suasana Al-Qur’an. Tidak heran jika sejak kecil beliau sudah terkenal sebagai orang yang alim dalam bidang Al-Qur’an.

Ada satu riwayat dari KH. R. Abdul Hamid (Adik Romo Kiai Najib) bahwa Romo Kiai Najib sebelum bisa membaca huruf hijā`iyyah sudah hafal Al-Qur’an 2 Juz.[10] Dalam artian bahwa sebelum Romo Kiai Najib lancar/bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, beliau sudah menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu melalui bimbingan paman beliau, KH. Ahmad Munawwir.

Namun demikian, Romo Kiai Najib juga menjalani kehidupan seperti anak kecil pada umumnya. KH. Henry Sutopo menceritakan bahwa Romo Kiai Najib pernah menjadi bagian dari “pasukan” Drumband NU dan berposisi sebagi mayoret.

Lebih lanjut, beliau menceritakan bahwa ketika itu beliau sangat gembira melihat Romo Kiai Najib sebagai sang mayoret dengan gagah dan lincah memainkan tongkat sambil melempar ke udara kemudian ditangkap lagi dengan sigap dan tidak pernah meleset.[11]

Baca juga: KYAIKU SANG AHLUL QU’RAN (KH. R Muhammad Najib AQ)

Diceritakan juga bahwa Romo Kiai Najib ketika kecil merupakan pemain sepak bola yang berposisi sebagai striker. Beliau sering memenangkan pertandingan, sehingga beliau sering disewa untuk membela beberapa tim ketika ada pertandingan.[12]

Perjalanan Romo Kiai Najib dalam mencari ilmu sudah pasti diawali dari pendidikan yang diajarkan oleh ayah beliau, KH. R. Abdul Qodir. Dalam menempuh pendidikan agama, seperti akidah, fikih, tasawuf, tafsir, hadis, dan berbagai ilmu agama lainnya, Romo Yai Najib mengaji kepada para masyāyikh Krapyak, khususnya kepada KH. Ali Maksum (Mbah Ali).[13]

Ada satu riwayat yang menceritakan bahwa Romo Kiai Najib merupakan salah satu santri kinasih Mbah Ali. Hal ini karena selain beliau merupakan keponakan Mbah Ali, beliau juga memiliki kecerdasan di atas rata-rata.[14]

Selain alim dalam bidang Al-Qur’an, Romo Kiai Najib juga alim dalam bidang ilmu agama lainnya, seperti penguasaan kitab kuning/kitab turats khas pesantren. KH. Henry Sutopo menceritakan bahwa beliau pernah mengaji kitab Irsyādul ‘Ibād kepada Romo Kiai Najib.[15]

Diceritakan juga bahwa ada santri senior/ustaz yang beberapa kali didhawuhi (diberi perintah) membuatkan teks khutbah Jum’at dalam bahasa Arab oleh Romo Kiai Najib. Ketika teks tersebut selesai, Romo Kiai Najib selalu mengoreksi dan membenarkan apabila ada bagian tulisan yang salah, baik dalam hal penulisan, nahwu atau shorof.

Romo Kiai Najib sebelum fokus mengajar Al-Qur’an juga pernah mengajar qira’ah sab’ah di Ma’had Aly Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Beliau mengajar menggunakan kitab Sirājul Qāri` al-Mubtadī karya Imam Ibnu al-Qāṣih al-Bagdadi, yang merupakan syarḥ dari kitab Ḥirzul `Amānī karya Imam al-Syāṭibī.[16]

Baca juga: Obituari KH R M Najib Abdul Qodir: Kembalinya Pembawa Al-Qur’an kepada Sang Maha Pencipta

Namun demikian, selain memperdalam ilmu agama Romo Kiai Najib juga menempuh pendidikan formal sampai jenjang Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.[17]

Proses Mengahafal Al-Qur’an

Setelah ayah beliau wafat, Romo Kiai Najib mengaji Al-Qur’an kepada KH. Ahmad Munawwir (Mbah Mad) yang juga merupakan paman beliau. Kepada Mbah Mad, Romo Kiai Najib berhasil menyelesaikan setoran hafalan Al-Qur’an 30 juz.

Mbah Mad merupakan guru yang menuntun dan membimbing Romo Kiai Najib dari kecil sampai beliau berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an-bisa dikatakan bahwa Romo Kiai Najib merupakan produk pengajaran Al-Qur’an Mbah Mad-.[18]

Pada pertengan tahun 1970-an, Romo Kiai Najib pergi ke Kudus untuk mengaji kepada KH. Arwani Amin (Mbah Arwan adalah panggilan yang sering disebutkan Romo Kiai Najib ketika menceritakan sosok KH. Arwani Amin).[19]

Beliau mengaji dan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz kepada Mbah Arwan dan dilanjutkan dengan setoran hafalan qira’ah sab’ah. Namun, sebelum Romo Kia Najib menyelesaikan hafalan qira’ah sab’ah-nya, Mbah Arwan sakit dalam waktu yang cukup lama.

Selain mengaji kepada Mbah Arwan, Romo Kiai Najib juga mengaji kepada KH. M. Hisyam Hayat (Mbah Hisyam, salah satu murid Mbah Arwan yang berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dengan qira’ah sab’ah).

Kepada Mbah Hisyam, beliau berhasil menyelesaikan hafalan qira’ah sab’ah-nya sampai 30 juz. Romo Kiai Najib mondok atau mengaji di Kudus selama kurang lebih lima tahun. Beliau kembali ke Krapyak pada awal tahun 1980-an.[20]

Baca juga: Ada yang Unik dan Khas dari Ngaji bersama Kiai Najib

Diceritakan bahwa ketika Romo Kiai Najib menyelesaikan hafalan qira’ah sab’ah-nya, Mbah Arwan masih hidup dan bahkan hadir bersama Mbah Hisyam dalam acara syukuran khataman Al-Qur’an Romo Kiai Najib di Krapyak. Hadirnya Mbah Arwan ini juga menjadi tanda lunasnya hutang beliau kepada guru beliau, KH. Muhammad Munawwir.

Hal ini karena KH. Muhammad Munawwir pernah berpesan kepada Mbah Arwan untuk mengajarkan qira’ah sab’ah kepada anak cucunya. Romo Kiai Najib adalah orang pertama dari keluarga KH. Muhammad Munawwir yang menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz dengan qira’ah sab’ah.[21]

Pernikahan

Pada tahun 1982, sepulang mondok dari Kudus, Romo Kiai Najib menikah dengan Nyai Hj. Musta’anah Saniyyah, putri K.H. Salman Dahlawi, Popongan, Klaten. Dari pernikahannya tersebut Romo Kiai Najib dikaruniai seorang putri bernama Nilna Minah.

Kemudian, Nyai Hj. Nilna Minah dinikahkan dengan Kiai M. Mas’udi Faturrohman, Demak dan memiliki dua orang anak, Khotun Al-Kayyisah dan Muhammad Dzakwan Tajussalatin.[22]

Wafatnya K.H. R. Muhammad Najib

20 Jumadil Awal 1442 H, bertepatan dengan tanggal 04 Januari 2021, suasana duka menyelimuti langit Krapyak. Pada sore itu, para santri sedang melakukan aktivitas seperti biasanya. Tiba-tiba ada satu santri ndalem[23] yang datang ke asrama dengan nada lantang memanggil semua santri untuk berkumpul di aula.

Wajahnya tampak sangat pucat, bingung, dan terlihat menahan tangis yang begitu dalam. Semua santri serentak kaget dan menyimpan banyak pertanyaan di hatinya. Ada apa?

Para santri yang berkumpul di aula tidak diberi penjelasan apapun, hanya disuruh untuk muqoddaman (membaca Al-Qur’an secara bersama-sama sampai khatam) dan membaca tahlil. Semua santri masih bingung dan bertanya-tanya, tetapi satu demi satu santri mulai menunduk dan meneteskan air mata.

Baca juga: Kiai Najib dan Dua Mazhab Shalat Tarawih

Mereka semua memiliki firasat yang sama, ketakutan yang sama, dan kesedihan yang sama, karena mereka semua mengetahui bahwa beberapa bulan ini Romo Kiai Najib sedang sakit.

Sampai akhirnya kabar itu datang. Beliau sang murabbī rūḥ Romo Kiai Najib berpulang ke haribaan Sang Pencipta pada pukul 05.00 sore di rumah beliau, kompleks Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

Seketika suasana menjadi kelabu, isak tangis mengiringi lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh para santri. Mereka semua sangat terpukul dan tidak percaya akan kepergian Romo Kiai Najib.

Romo Kiai Najib wafat dalam usia 66 tahun, setelah kurang lebih satu bulan beliau sakit. Selama hidup, Romo Kiai Najib mengabdikan raga-jiwanya untuk Al-Qur’an.[24]

Beliau mengajar santri-santrinya setiap hari, pagi, siang, sore, dan malam. KH Said Asrori menjadi saksi bagaimana luar biasanya tarbiyah wa ta’lim Romo Kiai Najib. Kiai Said menceritakan bahwa setiap kali sowan/bertamu ke Krapyak, beliau selalu melihat Romo Kiai Najib mengajar para santrinya.

Semoga kita para santrinya bisa mengikuti dan melakukan laku dan teladan Romo Kiai Najib.[25]

Penulis: Mohammad Chaudi Al Anshori (Santri Komplek Madrasah Huffadh 1)

Baca juga: Inilah Rumus Agar Mudah Menghafal Surat Al-Rahman


[1]GUS MUS – NASIHAT & DOA, 2020, https://www.youtube.com/watch?v=2qIEhYq6c-Q.

[2]Majelis Tahlil Virtual #4 Al-Maghfurlah KHR. M. Najib Abdul Qodir Munawwir, 2021, https://www.youtube.com/watch?v=oyn38rzDjB4.

[3]Majelis Tahlil Virtual 40 hari Almaghfurlah KH. R. M. Najib Abdul Qodir, 2021, https://www.youtube.com/watch?v=tt5H4RXo1Xk.

[4] Nyai Hj. Nilna Minah, Wawancara, 31 Agustus 2022.

[5] M. Mas’udi Fathurrohman, Romo Kyai Qodir (Tiara Wacana, 2011), 123.

[6] As’ad Aly, dkk, Manaqibus Syaikh K.H.M. Moenauwir (Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1975), 3–4.

[7]“Profil Pondok Pesantren | Pondok Pesantren Miftahul Ulum 2,” diakses 31 Agustus 2022, http://miftahululumjejeran.blogspot.com/2009/11/profil-pondok-pesantren.html.

[8] M. Mas’udi Fathurrohman, Romo Kyai Qodir, 123.

[9] Minah, interview.

[10] Romo Kiai Mas’udi Fathurrohman, Wawancara, 31 Agustus 2022.

[11] Majelis Tahlil Virtual #3 Al-Maghfurlah KHR. M. Najib Abdul Qodir Munawwir (Youtube, 2021), https://www.youtube.com/watch?v=r9O3b5OvZEI.

[12] Minah, wawancara.

[13] Minah.

[14] Ahmad Rikza Albana, Wawancara, 25 Agustus 2022.

[15] Majelis Tahlil Virtual #3 Al-Maghfurlah KHR. M. Najib Abdul Qodir Munawwir.

[16] Fathurrohman, wawancara.

[17] Minah, wawancara.

[18] Minah.

[19] Albana, wawancara.

[20] Minah, wawancara.

[21] Fathurrohman, wawancara.

[22] Minah, wawancara.

[23] Santri tersebut adalah Ustaz Ahmad Rikza Albana (Salah satu santri ndalem/tangan kanan Romo Kiai Najib.

[24] Albana, wawancara.

[25] Majelis Tahlil Virtual 40 hari Almaghfurlah KH. R. M. Najib Abdul Qodir.

Redaksi

Redaksi

Redaksi

Tim Redaksi PP. Al-Munawwir

462

Artikel