Haflah Khotmil Quran: Perihal Mulai yang Takkan Pernah Usai

Haflah Khotmil Quran: Perihal Mulai yang Takkan Pernah Usai

Almunawwir.com-Seperti halnya yang didawuhkan oleh KH. Muhammad Munawwir, bahwa kalau mengaji Al-Qur’an supaya diselesaikan sampai khatam agar menjadi orang mulia. Artinya bahwa Al-Quran adalah entitas yang mana ketika kita sudah memutuskan untuk berkenalan, maka istilahnya saru ketika tidak diselesaikan. Ibaratnya, sudah kadung teles, teles dalam artian bahwa hati, lisan, pikiran sudah terpatri cintanya dengan Al-Quran, sehingga ketika tidak membersamainya, terasa berat langkahnya.

Muatan dawuh Mbah Munawwir itu nyatanya begitu terasa dalam Majelis Haflah Khotmil Qur’an tahun ini. Menguar kuat euforia haru sekaligus perayaan cinta. Perayaan atas tuntasnya memahfuzkan untaian ayat-ayat Al Quran. Perayaan atas bergantinya rebasan air mata menjadi sebuah tawa yang tiada tanding tulusnya. Perayaan atas terwujudnya cita-cita orangtua oleh putra-putrinya.

Akan tetapi, sejak malam itu, titik mulai yang mereka putuskan untuk berkenalan, tak ada kata usai di dalamnya. Mulai yang takkan pernah ada usai. Segala hal yang telah dikorbankan itu, harus terus diperjuangkan sampai mati. Itu bukan resiko. Itu sebuah takdir yang benar-benar harus disyukuri oleh mereka yang baru saja menapakkan langkahnya dalam panggung megah berpondasi besi itu.

Jika Gusti Allah saja memuliakan Al Quran, lalu apakah ada alasan bagi kita, dan mereka, untuk memilih usai? Maka bersyukurlah atas bagian dari hamba yang ditakdirkan bisa mengaji dan membaca Al Quran. Dan apabila sudah berdiri di tanah Krapyak, maka bertambahlah fadhol itu. Istilahnya sudah mempunyai sangu luwih, menjadi orang terpilih yang diberi kesempatan cekelan tonggak ulama Quran Nusantara, KH. Muhammad Munawwir.

“Rangkaian acara haflah ini seperti wadah khusus bagi kami, santri mukim, untuk terus mengingat jasa dan perjuangan muassis, dan tentunya menjadi pemicu semangat untuk lebih giat tholabul ‘ilmi, pun ketika melihat alumni yang berhasil membawa nama baik pesantren di luar sana, membuat kami termotivasi ingin mengikuti jejaknya.” Begitulah sedikit makna haflah menurut salah satu panitia yang terlibat cukup dalam dalam rangkaian acara ini.

Selain panitia, salah satu khotimin, Kang Zainul juga menyampaikan makna haflah sebagai rasa syukur karena telah diberi nikmat khatam Al Quran dan bisa mengikuti Haflah Khotmil Quran dalam rangkaian acara Haul Mbah Munawwir ke-85. Memaknai suka duka dalam menghafal dengan ikhlas, sabar, dan semangat yang nantinya diberikan ganti, yaitu nikmat Khatam Al Quran.

Baca Juga:

Sedikit bocoran tips juga dari Kang Zainul, bahwa ketika menghafal beliau mempunyai prinsip, “Gak oleh gabut, waktu luang kudu digawe ngaji (murojaah atau ziyadah), sehingga harus pandai me-manage waktu.“ Selain tentang tips ngaji, yang paling penting adalah menanamkan dawuh Romo KH. Najib dalam hati saya, yaitu “ingat tujuan dari rumah“. Dawuh inilah yang selalu menjadi pegangan dirinya ketika mendapati ujian dalam proses menghafal. 

Terlepas dari semua kebaikan dan keberuntungan, segala yang sudah didapatkan oleh kita, dan mereka yang sedang dirayakan Qurannya, adalah sebab ridho dari masyayikh, para kyai dan guru yang mengalirkan darah barokah dan darah keilmuannya. Wa bil khusus, ridho dan untaian doa yang dilangitkan oleh orangtua. Doa bapak dan ibuk. Sebab doa mereka itu tajamnya mampu menembus apapun.

Sak landep-landep e gaman, Ora ono sek biso ngalahke landep e dungone wong tuwo (se tajam-tajamnya senjata, tidak akan ada yang bisa mengalahkan tajamnya doa orangtua).

Terakhir, perihal pepeling mulai yang takkan pernah usai ini, saya ingin menyampaikan selamat kepada khotimin dan khotimat. Selamat untuk memasuki babak baru kehidupan dengan pasangan seumur hidup, ya. Bukan hal yang mudah tentunya, namun kalian adalah manusia pilihan Gusti Allah yang diberi nikmat untuk melanggengkan kalam-Nya. Semoga bisa menular sabarnya, istiqomahnya, sregepnya, semangatnya, dan paling utama adalah ditulari ajeg nderesnya.

Dan untuk teman-teman saya, dan saya sendiri, ditambah lagi semangatnya, istiqomahnya, semoga dengan kita ajeg nderes, bisa menjadi wasilah untuk meneruskan tonggak perjuangan Mbah Munawwir, diakui sebagai santrinya serta mendapatkan hujan barokah dari beliau. Aamiin.

Sekali lagi, selamat. Seberat apapun ujian atas Quran kita, bukankah sudah dijamin kenikmatan yang tiada tara pada akhirnya sebab cinta yang tiada binasa ?

Salam ajeg nderes ! Sampai Jumpa di Haflah dan Haul berikutnya!

Baca Juga:

Editor: Redaksi

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Manazila Ruhma

Santri Komplek Q

7

Artikel