Regeneralisasi Metode Al-Qur’an Di Era Perkembangan Zaman

Regeneralisasi Metode Al-Qur’an Di Era Perkembangan Zaman

Yogyakarta – Almunawwir.com

Serangkaian kegiatan “Multaqa Ulama Al-Qur’an Nusantara” yang bertajuk “Desain Kurikulum Washatiyah Pendidikan Al-Qur’an” hari Rabu, (16/11/2022) yang bertempat di halaman Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, berjalan dengan penuh khidmat disertai sajian materi yang menarik.

Narasumber pertama yaitu, K.H. Ahsin Sakho Muhammad yang pada pemaparannya beliau menyampaikan bahwa, hamilul quran dan ahlul quran adalah tingkatan tertinggi diantara setiap tingkatan. Jika hanya menghafalkan teks levelnya masih nol koma.

KH. Ahsin Sakho memberikan materi di Acara Multaqa Melalui Zoom

Terlepas dari hal itu perlu adanya proses memahami isi, dan perhatian khusus terhadap bagaimana seseorang bisa belajar Al-Qur’an, tajwid, qiro’at, tafsir maupun yang lain. Maka dari itu, perlu didirikan kegiatan khusus yang hanya fokus pada kajian Al-Qur’an tanpa ada yang menumpang sehingga hasilnya memuaskan.

Baca juga: Gus Baha: Pentingnya Mengaji dan Barokah Orang yang Tidur

“Salah satu keistimewaan Al-Qur’an, yaitu bisa dikonsumsi semua tingkatan” tutur beliau.

Sebagaimana Al-Qur’an yang tidak hanya mampu dikonsumsi oleh orang dewasa tetapi juga kalangan anak-anak. Seperti yang masih berjenjang SD/MI tetapi sudah mampu membaca Al-Qur’an. Beliau kemudian membagikan seputar tips dalam menciptakan kurikulum moderasi.

Tips Menciptakan Kurikulum Moderasi

1. Anak diajarkan tauhid, karena merupakan landasan spiritual yang harus dipahami oleh setiap anak. Salah satu rencananya yaitu dengan menghafalkan Asmaul Husna dan arti dari Asmaul Husna itu sendiri.

Salah satu tugas pokok seorang guru yaitu bagaimana mereka bisa menjelaskan secara baik dan benar seputar arti dari Asmaul Husna tersebut. Mengenalkan sifat-sifat Allah Swt. yang tercermin dari makhluknya dan tercermin pada setiap kebijakannya di alam semesta.

“Ini keahlian dari seorang guru bagaimana bisa menjelaskan tentang Rahmatullah maka diperlukan adanya pengumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan Rahmatullah”.

Tutur beliau dalam Zoom-nya.

Baca juga: Prof. Said Agil Husin Al-Munawwar; Potret al-Qari’ al-Alim Masa Kini

Selain keahlian di atas juga dituntut tadabbur yaitu bagaimana Rahmat Allah Swt. di alam semesta. Seperti Allah Swt. menampilkan cahaya matahari, sedari dulu cahaya matahari belum pernah mengalami keterlambatan dalam menyinari dunia.

Selain itu, juga terdapat suplai seperti suplai secara fisik yaitu makanan dan minuman, suplai secara non fisik yaitu Al-Qur’an yang kemudian membuat seseorang menyadari dari mana dirinya berasal, dan untuk apa dirinya hidup.

3. Anak diajarkan Insaniyah, artinya kemanusiaan itu di atas segala-galanya, jika seseorang berbuat baik pada orang lain jangan bertanya seputar agamanya. Sebab insaniyah harus dijadikan sebagai faktor utama. Sebagaimana arti inasniyah itu sendiri yaitu persaudaraan sesama umat. Maka perlu adanya kesadaran untuk saling menghargai satu sama lain.

4. Mengenalkan pluralitas, jika ada seseorang yang menafsirkan bahwa non muslim adalah musuh maka hal itu tentu tidak baik. Sebagaimana dalam Al-Qur’an dijelaskan seputar kemuliaan manusia maka sepantasnya sebagai manusia harus saling memuliakan. Seperti nabi yang berteman dengan setiap ciptaan Allah Swt., seperti jin, hewan dan yang lain.

Narasumber kedua yaitu Sheikh Mahir Hasan Al-Munajjid, yang membahas seputar metode dan kurikulum di era perkembangan zaman.

Baca juga: [Potret Panitia] Harapan Baik dalam Pesan Kesan Multaqa 2022

Metode atau kurikulum dalam pengajaran Al-Qur’an bermacam-macam, seiring perkembangannya zaman semangat belajar Al-Qur’an semakin bervariasi. Berbeda, dengan zaman dahulu yang semangatnya terbilang sangat tinggi tetapi sekarang sebaliknya.

“Ini penting sebab berbicara soal kualitas dan pesantren, santri yang ada di pondok pesantren al quran tidak hanya pintar bahasa arab tetapi bacaan qurannya juga mutqin”.

Tutur pemilik qiroah ‘asyroh ini.
Syekh Mahir Hasan Al-Munajjid di Acara Multaqa Krapyak 2022

Metode Pengajaran Al Quran

Menurut beliau metode dalam pengajaran Al-Qur’an terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Metode zaman dulu, yang menekankan ketegasan.
  2. Metode sekarang, yaitu mengikuti perkembangan zaman dengan menerapkan metode yang terbilang mudah untuk memikat dan menambah daya tarik dalam mempelajari seputar Al-Qur’an.

“Banyak Kyai pintar kitab tetapi bacaan qur’an-nya kurang bagus begitupun sebaliknya. Jadi yang perlu bagaimana keseimbangan antara keduanya”.

Tutur beliau dalam menanggapi fenomena yang banyak terjadi.

Baca juga: Ngaji Ulumul Quran (10): Urutan Huruf Hija’iyyah

Beliau juga menceritakan seputar Ma’had yang didirikan olehnya, di Ma’had itu beliau ingin berkhidmah pada Indonesia. Terdapat pendidikan gratis yaitu mengambil santri-santri yang berasal dari Ma’had mana saja. Dengan syarat bacaan yang terbilang bagus dan tentunya bisa berbahasa arab.

Di akhir beliau menyampaikan bahwa metode terbaik dalam mengaji adalah Talaqqi, yaitu metode lansung berhadapan dengan guru bukan yang lain.

Sebab sering terjadi jika melalui internet terlihat bagus tetapi saat berhadapan dengan guru keluarlah kesalahan tersebut. Di ketahui internet tidak menciptakan mutqin (melekat kuat). Sehingga diharapkan mutqin dengan ilmu syariat yang seimbang.

Baca juga: Ngaji Tanqihul Qoul: Mengaku Cinta, Apa Buktinya?

Narda Nasar

Narda Nasar

Narda Nasar

Santri Komplek Nspi Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak. Minat Kajian di Sastra Berupa Opini, Puisi, Kisah dan lainnya.

3

Artikel