Proses Terjadinya Hujan dalam Al-Quran

Proses Terjadinya Hujan dalam Al-Quran

Almunawwir-Al-Qur’an memberikan arahan praktis dan spiritual, mengajarkan nilai-nilai moral, dan memberi pemahaman mendalam tentang hubungan kita dengan pencipta dan alam semesta. Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan agama bukanlah hal baru, karena keduanya telah berjalan bersama sejak dulu. Oleh karena itu, membaca Al-Qur’an tidak hanya memberi kita petunjuk rohaniah, tapi juga memperkaya pemahaman kita terhadap dunia yang indah ini.

Dalam kerangka Al-Qur’an, hujan diakui sebagai anugerah dan rahmat Allah SWT terhadap kehidupan di bumi. Keberadaannya bukan hanya fenomena alam, melainkan juga simbol nikmat yang memberikan kehidupan kepada makhluk hidup. Pandangan ini menghubungkan aspek ilmiah dengan dimensi rohaniah, menggambarkan hujan sebagai berkah Allah yang esensial bagi kelangsungan hidup dan keberlanjutan ekosistem bumi.

Hujan, sebagai manifestasi alam, menunjukkan peristiwa jatuhnya butiran air dari atmosfer ke permukaan bumi, menjadi elemen penting dalam siklus air. Hujan memiliki dampak signifikan pada ekosistem dan keberlangsungan hidup. Ada tiga ayat dalam al-Quran yang penulis kumpulkan menerangkan proses terjadinya hujan.

1. An-Nur ayat 43

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُزْجِيْ سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهٗ ثُمَّ يَجْعَلُهٗ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ جِبَالٍ فِيْهَا مِنْۢ بَرَدٍ فَيُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَصْرِفُهٗ عَنْ مَّنْ يَّشَاۤءُۗ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهٖ يَذْهَبُ بِالْاَبْصَارِ ۗ

Artinya: “Tidakkah engkau melihat bahwa sesungguhnya Allah mengarahkan awan secara perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk. Maka, engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung. Maka, Dia menimpakannya (butiran-butiran es itu) kepada siapa yang Dia kehendaki dan memalingkannya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan”.

2. Ar-Rum ayat 48

اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهٗ فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ فَاِذَآ اَصَابَ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَۚ

Artinya: “Allahlah yang mengirim angin, lalu ia (angin) menggerakkan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira.

3. An-Naba ayat 14

وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ

Artinya: “Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras.”

Air di atmosfer muncul dalam wujud gas atau uap, hasil dari proses penguapan di lautan, genangan, atau aliran air di daratan yang dipanaskan oleh sinar matahari, serta transpirasi tumbuhan. Kandungan uap air di atmosfer, dikenal sebagai kelembapan udara, bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.

Baca Juga:

Proses penguapan, pada dasarnya, adalah metode pendinginan karena memerlukan energi untuk mengubah air menjadi uap. Sebaliknya, di udara yang cukup dingin, uap air akan mengembun atau membeku menjadi air atau es.

Perbedaan suhu juga menciptakan perbedaan tekanan, mendorong pergerakan udara, dengan udara lebih dingin dan lembap mengalir ke tempat bertekanan rendah, umumnya lebih hangat.

Karakteristik lainnya termasuk jarangnya udara dan tekanan yang rendah semakin tinggi di atmosfer. Oleh karena itu, pemanasan udara memicu pemuaian dan pergerakan udara ke atas, khususnya di tempat yang terkena panas dan bertekanan rendah. Di lapisan atmosfer paling bawah, Troposfer, suhu udara menurun seiring ketinggian.

Dengan naiknya udara, terjadi pendinginan pada massa udara yang bergerak. Keseluruhan, perbedaan suhu dan tekanan udara menjadi pengendali utama kandungan uap air di udara, yang selalu bergerak sebagai angin.

Keterangan ilmiah tafsir ketiga ayat di atas penulis temukan pada Tafsir Ilmi Kemenag RI yang fokus pada Air dalam Perspektif Al-Quran dan Sains. Diterbitkan pada September 2011 kerjasama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dan Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Al-Qur’an mengajarkan nilai-nilai praktis dan spiritual serta memberikan pemahaman mendalam tentang hubungan manusia dengan pencipta dan alam semesta. Hujan, dalam perspektif Al-Qur’an, sebagai anugerah dan rahmat Allah SWT yang vital bagi kehidupan di bumi, bukan hanya sebagai fenomena alam, tetapi juga simbol nikmat yang memberikan kehidupan.

Dalam konteks ini, Al-Qur’an menghubungkan aspek ilmiah dan dimensi rohaniah, menggambarkan hujan sebagai berkah esensial untuk kelangsungan hidup dan ekosistem bumi.

Penulis: Muhammad Nahjul Fikri, Santri Komplek IJ

Editor: Redaksi

Baca Juga:

Redaksi

Redaksi

admin

530

Artikel