Intropeksi Diri di Akhir Ramadhan: Meraih Kualitas Ibadah Puasa yang Maksimal

Intropeksi Diri di Akhir Ramadhan: Meraih Kualitas Ibadah Puasa yang Maksimal

Almunawwir.com – Tidak terasa puasa Ramadhan, yang merupakan salah satu praktik ibadah penting bagi umat Islam, telah memasuki fase-fase akhir.

Namun sayangnya, salah satu fenomena yang muncul selama fase akhir Ramadhan adalah penurunan kualitas ibadah. Sebagian orang disibukkan dengan euforia berlebihan untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri.

Intropeksi
Sumber Gamabr: shehabnews.com

Nilai-nilai spiritual dan sosial yang seharusnya ditanamkan selama bulan puasa cenderung terlupakan. Bukankah Ramadhan seharusnya menjadi momentum bagi umat Muslim untuk lebih peduli kepada sesama, berbagi dengan yang membutuhkan. Dan memperbaiki hubungan antar dirinya dengan rabb-nya?

Namun, dalam euforia menyambut Idul Fitri, banyak orang yang terjebak dalam budaya konsumtif. Menjadikan perayaan ini sebagai ajang untuk berlomba-lomba dalam membeli baju baru, makanan, atau lainnya.

Baca juga:

Padahal di fase akhir Ramadhan ini dapat menjadi bahan refleksi dan evaluasi, sudah sejauh mana tingkat ibadah puasa kita selama satu bulan full, apakah sudah maksimal?

Dalam kitab “ إحياء علوم الدين (Ihya’ Ulumuddin jilid 1: 235) disebutkan :

“اعلم أن الصوم ثلاث درجات : صوم العموم ، وصوم الخصوص ، وصوم خصوص الخصوص . وأما صوم العموم : فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما سبق تفصيله. وأما صوم الخصوص : فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام. وأما صوم خصوص الخصوص : فصوم القلب عن الهضم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية ، ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الآخر ”

Terdapat 3 tingkatan puasa menurut Imam Ghozali :

Puasa tingkat pertama, atau puasa umum adalah puasa yang melibatkan menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Ini hanya sebatas menjaga batasan dzahir (tampak) puasa, tanpa memperhatikan perbuatan maksiat yang dilakukan selama berpuasa.

Puasa tingkat kedua, atau puasa khusus melibatkan menahan pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari melakukan dosa. Orang-orang yang melakukan puasa tingkat ini mengerti bahwa puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari perbuatan dosa.

Puasa tingkat ketiga, atau puasa paling khusus ialah puasa yang menahan hatinya dari keinginan dan pemikiran duniawi serta menahan hati dari segala sesuatu selain Allah Yang Maha Kuasa secara keseluruhan.

Baca juga:

Hanya sedikit yang sampai pada tingkat ketiga ini, pasalnya selain menahan lapar, haus, dan perbuatan dosa, mereka juga fokus untuk selalu mengingat Allah Swt. dan menjauhkan pikiran dari hal-hal selain Allah Swt dan dunia.

Pikiran yang terpusat pada hal-hal selain Allah SWT dianggap merusak dan membatalkan puasa pada tingkat ini.

Dari pemaparan Imam Ghozali dapat menjadi suatu bahan acuan untuk berintropeksi, ditingkatan mana kita berpuasa selama satu bulan penuh ini. Apakah ibadah puasa sudah dipenuhi dengan kebajikan atau bahkan hanya terjebak dalam rutinitas formalitas belaka.

Sebagai kesimpulan, di ambang akhir Ramadan yang tinggal menghitung hari masih dapat dimanfaatkan untuk lebih fokus pada peningkatan kualitas Hablum Minallah (حَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ) dan Hablum Minannas (حَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ).

Tentu disertai banyak intropeksi selama hampir satu bulan penuh berpuasa, sebagai bahan evaluasi di bulan Ramadhan yang akan datang kelak. Semoga kita senantiasa dipertemukan dengan Ramadhan tahun-tahun berikutnya dan dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih baik, Amiin. Wallahu A’alam Bish-showab

Baca juga:

Ahmada Wildan Afifi

Ahmada Wildan Afifi

AhmadaAfifi

18

Artikel