Tips dan Trik Praktik Kaidah Ikhfa’

Tips dan Trik Praktik Kaidah Ikhfa’

Yogyakarta – Lajnah Bahtsul Masail

Perlu diketahui bahwa dalam membaca Al-Quran diperintahkan untuk tartil sebagaimana dalam surah Muzammil ayat 4 “…dan bacalah al-Quran secara tartil…”

Sayyidina Ali ra. menjelaskan makna “tartil” dengan “tajwidul huruf wa ma’rifatul wuquf (mengindahkan bacaan huruf dan mengetahui tentang waqaf-nya).”

Sumber Gambar: www.ukulele.co.nz

Maka dari sini ilmu tajwid sebagai ilmu yang membahas cara pengucapan huruf, sifat huruf, dan kaidah lainnya menjadi penting.

Baca juga: Jenis-jenis Waqaf Dalam Al-Qur’an (Bagian 1)

Terkait dengan pentingnya ilmu tajwid, salah seorang ulama qiraat bernama Syekh al-Jazary menyebutkan dalam kitabnya Matnul Jazariyyah:

والأخذ بالتجويد حتم لازم # مـن لـم يـجـوّد الـقرأن أثـم

“Dan mempelajari ilmu tajwid adalah sesuatu yang wajib

Siapa yang tak (berusaha) memperbaiki bacaannya maka ia bisa berdosa”

لأنــه بــه الإلــــه أنــزل # وهـكـذا مـنـه إلـيـنـا وصـلا

“Karena demikianlah (beserta cara membacanya) Allah menurunkan al-Quran

Dan seperti itu pula (bacaan al-Quran dan tajwidnya) sampai kepada kita
(Lihat Mundzir Nadzir, Wifaaqun  at-Thalabah ala Tahrir Matn al-Jazazariyyah [Maktabah Balai Kutub] hlm. 14)

Baca juga: Bagaimana Menyikapi Beragamnya Standar Waqaf  Dalam Berbagai Mushaf?

Di antara kaidah-kaidah tajwid adalah hukum bacaan ketika ditemukan nun yang berharakat sukun atau huruf yang berharakat tanwin bertemu dengan huruf lain.

Dalam pembahasan nun sukun dan tanwin terdapat empat jenis kaidah yaitu idzhar, idgham, iqlab, dan ikhfa’. Dari keempat kaidah tersebut, ikhfa‘ memiliki cakupan yang paling luas di mana terdapat 15 huruf yang dihukumi ikhfa‘.

Semua huruf yang 15 tersebut tercantum dalam bait kitab Tuhfat al-Athfaal.

صف ذا ثنا كم جاد شخص قد سما # دم طـيـبا زد فـي تقى ضع ظالـما

Yaitu: ص، ذ، ث، ك، ج، ش، ق، س، د، ط، ز، ف، ت، ض، ظ ,dengan banyaknya huruf tersebut maka ikhfa’ menjadi kaidah yang cukup sering kita temukan ketika membaca al-Quran. Lalu bagaimana cara kita mempraktikkan ikhfa’ yang baik dan benar?

Karena hal tersebut tentu saja menjadi kewajiban bagi kita untuk mempelajarinya sebagai alat untuk memperbaiki bacaan kita.

Baca juga: Daging yang Sudah Dibersihkan Namun Masih Tersisa Darah, Haramkah?

Ikhfa secara bahasa bermakna “menyamarkan”, sedangkan secara istilah dijelaskan dalam kitab Siraj al-Qari al-Mubtadi halaman 102.

الإخفاء حالة بين الإظهار والإدغام وهو عار من التشديد. أخبر أن النون الساكنة والتنوين يخفيان مع بقاء غنتهما

Ikhfa‘ adalah suatu keadaan antara idzhar (jelas) dan idgham (memasukkan) dengan tanpa adanya tasydid. Yang di samarkan dalam ikhfa‘ adalah nun sukun dan tanwinnya namun tetap dengan dengung keduanya.

Terdapat redaksi “khaalatun baynal idzhaari wal idghami” dikarenakan ikhfa’ memiliki hukum yang berada di tengah-tengah. Tempat keluarnya huruf nun sukun dan tanwin tidak berada jauh dari huruf-huruf ikhfa‘.

Seperti jauhnya dengan huruf-huruf idzhar sehingga wajib dibaca jelas, dan tidak sedekat huruf-huruf idgham sehingga wajib dimasukkan.

Cara mempraktikkan ikhfa’ yang baik dan benar dikemukakan secara umum oleh Syekh Abdul Fattah al-Mishry dalam kitabnya Hidayah al-Qariy juz 1 halaman 169 bahwa ketika huruf-huruf ikhfa’ jatuh setelah nun sukun dalam satu maupun dua kata.

Baca juga: Benarkah Permainan Capit Boneka Termasuk Aktivitas Perjudian? Berikut Penjelasannya

Maka wajib untuk disamarkan ­nun-nya disertai dengan tetap menjaga sifat tebal tipisnya huruf-huruf ikhfa’ seraya mempertahankan dengung selama dua harakat. Hukum disamarkan tersebut juga berlaku ketika huruf-huruf ikhfa‘ jatuh setelah tanwin dalam dua kalimat.

فوجود الغنة في الحرف الأول مع النطق به ساكناً غير مشدد بين صفتي الإظهار والإدغام يتطلب نقل النون الساكنة والتنوين من طرف اللسان إلى قرب مخرج الحرف الذي يخفيان عنده

Maka wujud dengungnya pada huruf yang awal (nun dan tanwin) beserta pengucapannya yang disukun tanpa di tasydid dan berada di antara kedua sifat idzhar dan idgham. Ikhfa’ dilakukan dengan memindah (makhraj) nun yang disukun dan tanwin dari ujung lidah mendekati makhraj huruf yang di-ikhfa’-kan.
(Abdul Fatah al-Mishriy, Hidayah al-Qariy ila Tajwiidi Kalaami al-Baary [Maktabah Thoyyibah] juz 1 halaman 184).

Sehingga dapat dikatakan hukum bacaan ikhfa‘ dipraktikkan dengan cara menyamarkan suara nun sukun dan tanwin disertai dengan (ghunnah) dengung. Disebut menyamarkan dikarenakan tidak tampaknya suara nun sukun secara jelas.

Baca juga: Ibu Nyai Ida Fatimah Zainal: Sang Teladan dan Reformis bagi Santri-Santrinya

Mendengungkan dilakukan sambil memindahkan makhraj nun sukun dan tanwin (ujung lidah) mendekati makhraj huruf selanjutnya. Dengan kata lain sambil mempersiapkan huruf (ikhfa‘) yang terletak setelahnya.

Menyamarkan nun sukun ataupun tanwin ketika bertemu huruf ikhfa‘ tidaklah dalam satu keadaan yang sama melainkan berbeda-beda dalam kekuatannya.

Hal tersebut didasarkan pada dekat dan jauhnya makhraj huruf-huruf ikhfa‘ dengan makhraj huruf nun atau tanwin. Maka ketika keduanya berdekatan dengan huruf ikhfa‘, ke-samar-an keduanya melebihi huruf ikhfa‘ yang makhraj-nya jauh.

Pemaparan diatas hanya dalam batas teori secara umum, untuk lebih jelasnya penulis menyarankan untuk talaqqi secara langsung kepada seorang guru yang dikenal ahli dalam bidang tajwid. Wallahu a’lam.

Baca juga: Mbah Yai Zainal Abidin Munawwir dan Ghasab Jalan

Lajnah Bahtsul Masail Almunawwir

Lajnah Bahtsul Masail Almunawwir

Lajnah Bahtsul Masail Almunawwir

8

Artikel